Mitologi Pawukon

Bagikan

Oleh: IW Sudarma

Dalam  ajaran Wariga peranan wuku tidak dapat dikesampingkan dalam menentukan  padewasan untuk mengawali suatu pekerjaan mapun melakukan Yajña. Setelah  wewaran, wuku adalah merupakan rumusan ke dua dari wariga untuk  menentukan padewasan.

Berdasarkan lontar Medangkamulan  diceritakan kelahiran wuku seperti dibawah ini. Tersebutlah ada raja  yang banyaknya 27 orang yaitu Raja Giriswara memerintah di Gunung  Emalaya, Raja Kuladewa di Pasutranu. Raja Talu memerintah di Winekatalu.  Raja Mrebuana di Marga Wisaya. Raja Waksaya di Bragu. Juga ada Raja  Wariwisaya di Waragadiaswara. Raja Mrikjulung memerintah di Sekar  Kencana, Raja Sungsangtaya di Sagraya.

Ada lagi yang lainnya yaitu Raja  Dungulan bertahta di Tanpasabda. Raja Puspita di Jena. Raja Langkir di  Langkaraya. Raja Medangsu di Medangpat. Raja Pujitwa di Pujiwisaya. Raja  Paha di Pangkurian. Raja Kruru di Ruruksa. Raja Mrangsinga memerintah  di Mrasuminggah. Raja Tambur memerintah di Kawi. Ada lagi  Raja  Medangkusa memerintah di Kusinagara.Raja Matal memerintah di Matala.  Raja Uye di Padengenan. Raja Ijala di Wirajala. Raja Yuda di Prangwija.  Raja Baliraja memerintah di Ladikara. Raja Wiugah di Gandawiran. Raja  Ringgita di Apsari.Raja Kulawudra bertahta di Kalasumihang. Raja Sasawi  di Tresawit.

Diceritakan lagi bernama Dang Hyang  Kulagiri, mempunyai istri dua orang, istri yang pertama namanya Dewi  Sintakasih, putra dari bhagawan Gadiswara, istri yang kedua namanya Dewi  Sanjiwartia, pura Dang Hyang Pasupati, kedua putri ini menjadi Raja di  Kundadwipa.  Setelah lama bersuami istri, lalu Dang Hyang Kulagiri  berkata kepada istri keduanya, menyampaikan bahwa beliau segera akan  pergi ke Gunung sumeru bertapa, juga mengingatkan supaya permaisurinya  baik-baik saja tinggal di kraton selama beliau pergi. Istri beliau  berdua menyetujui.  Tak diceritakan keadaan sang raja bertapa sudah  cukup lama sekarang diceritakan Dewi Sintakasih sudah hamil tua. Dewi  Sintaksih bercakap-cakap dengan Dewi Sanjiwartia, memperbincangkan sang  raja belum datang. Akhirnya dalam percakapan itu diputuskan akan mencari  suaminya ke gunung Sumeru (tempat sang raja bertapa).  Tersebutlah  kedua istri sang raja berangkat dari kraton, menuju tempat suaminya  bertapa, sampailah perjalanan beliau pada lereng Gunung Sumeru, Dewi  Sintakasih sakit perutnya makin lama makin sakit sebagai tanda akan  melahirkan.

Duduklah Dewi Sintakasih di atas batu  yang datar dan lebar, melepaskan lelahnya sampil menahan rasa sakit  perutnya tetapi sayang tidak tertahan saat itu juga Desi Sintakasih  melahirkan bayi laki-laki. Pecahlah batu tersebut karena tertimpa badan  si bayi.  Setelah hal tersebut terjadi gelisah dan berdukacitalah Dewi  Sintakasih bersama Dewi Sanjiwartia. Saat itu pula turunlah Ida Hyang  Padmayoni, bertanya kepada para putri itu, apa sebabnya mereka bersedih.  Sang Dewi menghormat sambil berkata: “Ya, yang terhormat batara,  hambamu ini ditinggal oleh suami bertapa di lereng Gunung Sumeru, sejak  hamba baru mulai hamil hingga sekarang. Sampai kelahiran putra hamba ini  belum juga beliau datan (kembali), itulah sebabnya hambamu ini bersedih  hati”. Demikianlah kata kedua putri itu menghormat kehadapan Dewa  Brahma.  Dewa Brahma setelah mendengar cerita kedua putri tersebut  beliau sangat bahagia dan mendoakan supaya bayi itu panjang umur  terkenal di dunia serta diberikan anugerah yang hebat tidak terbunuh  oleh para dewa, danawa, detya, manusia tak terbunuh pada malam hari  maupun pada siang hari, tidak mati dibawah maupun di atas, tidak  terbunuh oleh senjata. Kecuali yang dapat membunuhnya adalah Dewa Wisnu.  “ Karena bayimu lahir di atas batu, aku anugrahi nama I Watugunung”.

(bersambung)


Bagikan

2 thoughts on “Mitologi Pawukon

  1. Pingback: Hindu Dharma | Watugunung Menaklukkan Kerajaan

  2. Pingback: Hindu Dharma | Ala Ayuning Wuku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *