Tiga Ciri Suksesnya Pengamalan Agama

Bagikan

Oleh: I Ketut Wiana

Masih banyak orang yang baru merasa beragama kalau sudah melaksnakan upacara yadnya atau melakukan sembahyang. Menolong orang menderita, berdana punia di bidang pendidikan, tidak mengotori lingkungan, berlalu lintas yang sopan mengikuti aturan, hidup hemat, hal itu sering tidak dianggap sebagai perilaku mengamalkan ajaran agama. Padahal, berbuat baik, benar dan wajar diajarkan sebagai pengamalan agama.

Berbakti pada Tuhan sesungguhnya untuk memotifasi agar manusia dapat berbuat baik, benar dan wajar, untuk membenahi kualitas hidup dirinya sendiri, kualitas kehidupannya bersama dalam masyarakat dan kualitas perilakunya pada alam lingkungan.

Upacara yadnya adalah merayakan hari raya agama sebagai metode sakral untuk menanamkan tattwa agama agar umat termotivasi melakukan perilaku nyata memelihara hak azasi alam berdasarkan rta. Demikian juga untuk menegakan dharma agar kualitas moral dan daya tahan mental semakin meningkat. Agama Hindu juga mengajarkan agar memelihara kesehatan dan kebugaran fisik sebagai media untuk berbuat baik, benar dan wajar.

Citra kehidupan beragama akan menjadi semakin terpuruk kalau pengamalan agama menyebabkan kehidupan umat manusia semakin rusak. Sebutlah misalnya atas nama agama melakukan teror yang demikian kejam kepada sesama manusia, karena alasan berbeda agama tidak mau bergaul setara dengan sesama manusia. Ada juga karena alasan agama, orang membeda-bedakan harkat dan martabat manusia, seperti memandang kedudukan wanita lebih rendah dari laki-laki. Dengan alasan agama, orang mendudukkan suatu wangsa tertentu lebih tinggi dari wangsa yang lain.

Pengamalan agama seperti itu akan merusak citra agama. Perilaku yang demikian itulah sesungguhnya tergolong melakukan penodaan agama yang melanggar ajaran agama itu sendiri dan juga ketentuan hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Pengamalan agama dalam kehidupan ini baru dianggap berhasil setidak-tidaknya dapat dilihat dari tiga kriteria — adanya peningkatan kualitas hidup manusia secara individual, adanya peningkatan kualitas kehidupan sosial, dan adanya peningkatan upaya pelestarian alam lingkungan. Tanpa adanya kemajuan dalam tiga aspek kehidupan itu, berarti kehidupan beragama belum berhasil memberikan kontribusi positif pada kehidupan ini.

Keyakinan dan pemujaan pada Tuhan salah satu wujud dari pengamalan agama. Kalau pemujaan Tuhan itu tidak mendatangkan perbaikan pada tiga aspek tersebut, maka ada sesuatu yang salah dalam proses pengamalan agama. Kesalahan itu bukan pada ajaran agama yang suci sabda Tuhan tersebut.

Tiga kriteria suksesnya pengamalan agama dapat diamati sbb.:

Pertama, adanya peningkatan kualitas hidup secara individual. Artinya dengan mengamalkan ajaran agama, seseorang hidupnya menjadi semakin berkualitas. Dengan mengamalkan ajaran agama, hidup seseorang lebih tenang dan damai dalam kejiwaannya, lebih sehat secara fisik, lebih disiplin dalam melakukan kehidupan, lebih mampu menata kehidupan yang semakin sejahtera lahir dan batin.

Demikian juga secara individual moralnya semakin luhur, daya tahan mentalnya lebih tangguh menghadapi hiruk pikuk, pasang surut serta suka dukanya kehidupan ini. Proses kehidupan yang multidimensi ini diselenggarakannya dengan seimbang dan wajar dan dengan demikian kehidupan di bumi ini tidak dirasakan sebagai beban yang demikian memberatkan. Suka duka diterimanya dengan sikap yang adil dan dengan akal sehat.

Dalam diri setiap orang, menurut sastra Hindu ada kekuatan citta yang disebut aiswarya. Unsur aiswarya ini adalah unsur pikiran yang mendorong seseorang berniat dan berbuat untuk meningkatkan kualitas diri terus menerus. Dengan mengamalkan ajaran Hindu, unsur aiswarya itu menjadi semakin kuat dalam citta atau alam pikiran seseorang. Dengan begitu, orang pun semakin kuat niatnya meningkatkan kualitas dirinya secara individual.

Kedua, dinamika kehidupan sosial yang semakin harmonis. Dinamika sosial itu tetap sinergis. Sinergi sosial itu mampu menumbuhkan produktivitas sosial yang semakin kondusif menciptakan nilai-nilai spiritual dan nilai material yang seimbang dan berkesinambungan. Dengan nilai itu, umat manusia hidupnya semakin rukun, aman dan damai. Agama seharusnya mampu didayagunakan untuk memanajemen berbagai perbedaan agar menjadi keanekaragaman yang membawa daya tarik menghapuskan kejenuhan jiwa.

Agama jangan diekspresikan justru untuk membawa keruhnya kehidupan sosial yang dalam dunia global semakin pluralistik. Kondisi pluralistik ini justru dibina untuk membangun dialog sosial yang multikultur. Dialog sosial itu dapat mendorong munculnya inspirasi spiritual dalam mengakomodasikan berbagai aspirasi yang berbeda dari berbagai pihak. Pengamalan agama dapat meredam dengan cantik emosi sosial yang kadang-kadang meledak karena dipicu oleh pihak-pihak tertentu. Memelihara kualitas individu dan sosial bedasarkan ajaran dharma.

Ketiga, pengamalan agama akan sukses dengan ciri tidak adanya perilaku manusia mengeksploitasi keseimbangan alam lingkungan yang melanggar hukum rta. Lingkungan yang rusak karena adanya kerakusan sementara pihak, sementara orang-orang kaya menggunakan sumber-sumber mineral yang tak terbarukan secara berlebihan. Misalnya minyak bumi, bijih besi, timah, emas, perak, dll.

Semua sumber mineral yang tak terbarukan itu dieksploitasi secara berlebihan sehingga menimbulkan berbagai kerusakan bumi. Demikian juga menurunnya keberadaan air tawar di bumi karena penggunaan yang berlebihan dan juga karena adanya pengerusakan hutan yang sulit dihentikan. Semua itu mestinya tidak terjadi kalau agama dapat berfungsi meredam kerakusan manusia. Alam seharusnya dijaga penggunaannya secara seimbang dengan tidak melanggar hukum rta.

Sumber: http://indoforum.org


Bagikan

About

You may also like...

Your email will not be published. Name and Email fields are required