Menguatkan Diri dalam Hadapi Dinamika Hidup

Bagikan

Dalam Bhagawad Gita II.15 ada dinyatakan “sama duhkha-sukham dhiram“. Maksudnya: seimbang dan teguhkanlah diri menghadapai gejolak senang dan sedih.

Fluktuasi senang dan sedih pada zaman Kali ini semakin tajam, terutama bagi mereka yang lemah daya spiritualnya. Membangun sikap hidup yang bijaksana amat sulit kalau masih keadaan diri dikelabui oleh kuatnya gejolak suka dan duka.

Menghadapi meningkatnya dinamika zaman pada era global dewasa ini sungguh tidak mudah. Sangat dibutuhkan peningkatan daya tahan diri agar tidak mudah goyah dan jatuh dalam menghadapi pasang surutnya zaman.

Ada empat hal yang harus terus menerus dilatih untuk meningkatkan daya tahan diri agar tidak mudah tergoyahkan oleh dinamika zaman yang dapat menjebak hidup ini pada lingkaran suka dan duka itu. Melatih diri itu dinyatakan oleh Dr Naresh Bhatia dalam bukunya “Bertatap Muka dengan Tuhan”. Melatih diri secara terus menerus itu dinyatakannya atas nasehat guru spiritualnya. Empat hal itu adalah melatih kekuatan badan jasmani, melatih mental, melatih kecerdasan dan melatih kemampuan akal budi agar dapat mencapai wiweka jnyana.

Badan jasmani perlu dilatih dengan membiasakan hidup teratur berdisiplin ketat. Jangan menggunakan badan melebihi kemampuan daya dukungnya. Badan hendaknya selalu dipelihara dan dilatih agar senantiasa sehat, segar dan bugar. Agar badan selalu sehat, salah satu caranya adaleah dengan jangan makan sembarangan. Jangan makan berdasarkan selera lidah saja. Lidah boleh menikmati makanan enak, tetapi jangan sampai makan seenaknya.

Dapatkanlah makanan dengan jalan dharma. Makanlah jenis makanan yang satvika ahara sebagaimana diajarkan dalam Bhagawad Gita XVII.8. Makanlah jenis makanan yang sesuai dengan siklus tubuh alami. Waktu pagi siklus pembuangan, siang siklus pengolahan dan malam siklus pemanfaatan. Memakan jenis makanan sesuai dengan siklus tubuh makanan itu akan memberi manfaat maksimal pada kesehatan tubuh. Demikian menurut teori Dr Harvy dalam buku “Hidup Sehat dan Bugar”.

Badan yang disebut sarira dibangun dari lima unsur yang disebut panca maha bhuta yaitu zat padat, cair, panas, udara dan ether. Lima unsur inilah secara umum membangun badan jasmani. Lima unsur inilah yang membentuk tulang, otot, syaraf, darah dan kelenjar dan unsur yang lebih halus lainnya. Menurut para yogi, wujud yang sangat halus dari semuanya itu adalah cakra.

Semua unsur itu harus diberikan makan, minum dan dilatih setiap hari agar berfungsi dengan sempurna. Melatihnya dengan olah raga untuk melenturkan otot dan syaraf secara teratur. Dengan yoga asana untuk menguatkan fungsi kelenjar dengan panca prana-nya. Sedangkan meditasi untuk menguatkan fungsi cakra menyeimbangkan semua unsur hidup dalam diri.

Memelihara dan melatih tubuh ini harus dilakukan dengan disiplin yang ketat (karmasiksana). Melatih mental dilakukan dengan meluaskan kesadaran rohani (satsila). Dengan meningkatkan kesadaran rohani secara terus menerus, jiwa akan menjadi semakin cerah. Dengan jiwa yang cerah itu serta dengan keyakinan pada Tuhan sebagai sutradara agung kehidupan umat manusia, maka mental akan menjadi semakin kuat menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Suka dan duka akan diterima dengan sikap yang teguh (dhira) dan seimbang. Tidak akan ada kejadian apapun di alam semesta ini tanda seizin dan atas kesaksian Tuhan. Latihlah setiap hari menguatkan keyakinan tersebut. Ada banyak metode untuk melatih katahanan mental tersebut.

Melatih kecerdasan dilakukan dengan rajin belajar membaca teori-teori, pandangan dan berbagai perluasan wawasan hidup. Upaya pemahaman teoritis itu dilanjutkan dengan rajin mengamati dan menganalisa berbagai persoalan dalam kehidupan empiris. Untuk melakukan hal ini, salah satu caranya dengan rajin membaca dan mengikuti sajian berbagai media secara kontinyu. Untuk meningkatkan kemampuan wiweka jnyana yaitu kemampuan untuk membeda-bedakan baik-buruk, benar-salah, patut-tidak, wajar-tidak, dan seterusnya. Untuk hal ini, wajib dilakukan upaya penguatan daya spiritualitas melalui kegiatan keagamaan sebagaimana yang tertera dalam kitab suci. Kitab suci Hindu memuat banyak jalan bagi setiap orang untuk memajukan kehidupan spiritualitasnya.

Ajaran Hindu memuat berbagai petunjuk hidup untuk menguatkan dirinya sehingga hidup ini tidak dirasakan sebagai beban yang memberatkan. Ajaran Hindu bukanlah ajaran yang membebani umatnya dengan sejumlah kewajiban yang memberatkan hidupnya. Ajaran Hindu justru memberikan kekuatan pada umat penganutnya agar mampu memikul berbagai beban hidup. Kalau ada umat yang merasa terbebani hidupnya oleh kewajiban-kewajiban agama, hal itu bukanlah salahnya ajaran agama. Umatlah yang kurang paham dalam memahami ajaran agama Hindu yang dianutnya.

Ajaran Hindu disabdakan oleh Tuhan bukan untuk membuat umat penganut menjadi semakin berat dan sulit dalam menjalankan kehidupan. Kalau benar dan tepat caranya umat memahami dan mengamalkan ajaran Hindu tersebut, justru akan menjadi hidup semakin cerah dan sehat lahir batin. Demikian juga dalam kebersamaannya umat, akan semakin harmonis dan bersinergi secara dinamis dan produktif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya lahir batin. Umat tidak akan hidup kesepian dalam dunia ramai. Dalam kebersamaan itu umat akan dapat memenuhi kebutuhan sosiologis dan psikologisnya.

Dengan menjadikan hidup ini sebagai proses untuk melatih empat hal yang sudah disebutkan tadi secara terus menerus dengan berdisiplin, maka umat akan tangguh menghadapi perjalanan zaman yang sangat dinamis ini. Jika orang-orang tangguh menghadapi dinamika hidup, maka vibrasi spiritual yang tersebar akan semakin positif. Kalau banyak orang kecewa, sedih, marah, kesal, dendam dan senantiasa berniat buruk, maka vibrasi yang tersebar akan negatif. Vibrasi yang negatrif ini amat kuat pengaruh negatifnya pada pembangunan diri yang tenang dan damai.

Sumber: http://indoforum.org


Bagikan

About

You may also like...

Your email will not be published. Name and Email fields are required