Hindu Dharma

Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma

Jangan Berhenti Menebar Benih Kebaikan

Tersebutlah seorang suci yang tinggal di India Tengah, bernama Ekanath. Beliau sangat maju didalam yoga samadhi-nya dan hidupnya sangat sederhana. Para penduduk mengenalnya sebagai seorang pendeta yang tidak pernah marah. Tidak ada yang mampu memancing amarahnya dan karena itulah para penduduk ingin sekali melihat apa yang akan terjadi jika beliau marah? Mereka ingin biar dapat melihat Ekanath marah sekali saja. Berbagai usaha sudah pernah dicoba namun selalu gagal.

Hal itu menambah “gregetan” hati para penduduk setempat. Keinginan mereka untuk melihat Ekanath marah semakin menjadi-jadi. Hingga suatu ketika, mereka membujuk seseorang untuk memancing keluar kemarahan Ekanath. Orang itu dibayar mahal, hanya demi para penduduk dapat melihat kemarahan Ekanath sekali saja.

Pada suatu hari, sebagaimana biasanya dalam kesehariannya, Ekanath pergi ke sungai untuk mandi. Ekanath langsung melakukan pemujaan sederhana dan masuk ke dalam sungai. Sedangkan di bagian pinggir sungai yang lain, di bawah pohon, lelaki bayaran itu duduk dengan tenang sambil makan kacang kulit, menunggu Ekanath selesai mandi. Setelah selesai mandi Ekanath naik ke daratan, berjalan mengarah ke ashramanya untuk melakukan persembahyangannya.

Tiba-tiba, Ekanath dihadang oleh lelaki itu. Setelah dekat, lelaki itu meludahi wajah Ekanath, setelah itu ia pergi dan kembali duduk di bawah pohon tadi.
[Read the rest of this entry...]

Makna Tumpek Wayang dalam Kehidupan Manusia

Hari ini, Sabtu 04 September 2010, bertepatan dengan hari Tumpek Wayang. Berikut ini tulisan terkait dengan maknanya. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Oleh : NI MADE PUTRI, S.Sos.

Tumpek Wayang adalah manifestasinya Dewa Iswara yang berfungsi untuk menerangi kegelapan, memberikan pencerahan ke hidupan di dunia serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan. Dimana tumpek terdiri dari dua suku kata tum dan pek, tum artinya kesucianya dan pek artinya putus atau terakhir. Jadi tumpek adalah hari suci yang jatuh pada penghujung akhir Saptawara dan pancawara seperti Saniscara Kliwon Wayang disebutlah Tumpek wayang.

Tumpek wayang merupakan cerminan dimana dunia yang diliputi dengan kegelapan, manusia oleh kebodohan, keangkuhan, keangkara murkaan, oleh sebab itu Siwa pun mengutus Sangyang Samirana turun ke dunia untuk memberikan kekuatan kepada manusia yang nantinya sebagai mediator di dalam menjalankan aktifitasnya.
[Read the rest of this entry...]

Sloka Pelarangan Membunuh Binatang

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa pembunuhan binatang dilarang dalam weda. Berikut ini lanjutannya.

Sebab itulah kitab-kitab Weda pada akhirnya memang melarang adanya pembunuhan binatang, meski pada awalnya seolah terdapat cukup “peluang” untuk melakukan pembunuhan guna tujuan yajna. Namun tetap ada kalangan yang berpikiran bahwa kitab suci Manawa Dharmasastra (Weda Smrti), yaitu kompedium Hukum Hindu sepenuhnya membenarkan dilakukan pembunuhan kepada binatang atas dasar yajna, kemudian dagingnya dapat disantap.

Mereka mengacu pada ayat-ayat Artha Pancamo Hyayah (Buku Kelima) pada ayat : 16,18,22,31,dan 32. Sepintas memang nampak bahwa ayat-ayat tersebut membenarkan manusia makan daging dan ikan meski dengan persyaratan tertentu yang nampaknya di jaman ini sangat sulit untuk diikuti.

Misalnya mencari seorang Brahmana yang mempunyai kualifikasi setara Rsi Agastya, yang sungguh mampu mengangkat kehidupan binatang menjadi lebih baik dari kehidupannya sebelumnya. Daging diperkenankan dimakan jika telah diperciki air suci oleh Brahmana yang kualifide, dan hal ini hanya diijinkan dan berlangsung pada saat diselenggarakannya upacara kurban untuk para dewa atau leluhur. Aturan ini disusun oleh Vaivasvata Manu yaitu untuk keperluan upacara kurban suci Dewa Yajna dan Pitra Yajna. Di sini tidak disebutkan secara tegas yajna yang bagaimana ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian dalam kitab yang sama dalam ayat selanjutnya ditegaskan sebagai berikut :
[Read the rest of this entry...]

Pembunuhan Binatang Dilarang dalam Weda

Makhluk Hidup adalah Bagian dari Tuhan

Semua mahkluk hidup adalah bagian percikan dari Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki sifat yang sama seperti Tuhan. Karena itu keberadaan bagian percikan ini sewajarnya ia tidak boleh terlepas dari sumbernya. Namun demikian sebagai Sang Maha Pencipta Yang Maha Pemurah, Tuhan Yang Maha Esa telah senantiasa memberi kemerdekaan kepada para makhluk hidup untuk berkiprah menurut kehendak mereka masing-masing, sekalipun ia memilih untuk menikmati di luar hubungan dengan Tuhan, bersaing, atau bahkan menentang Tuhan sekalipun. Tuhan Yang Maha Esa tetap memberi dan menyediakan mereka sarana maupun fasilitas yang dibutuhkan.

Tuhan Memberi Jalan Menuju kepada Beliau

Meski seperempat bagian dari seluruh ciptaan semesta, yaitu seluruh tatanan planet-planet material dihuni oleh para mahluk hidup yang telah meninggalkan misi penciptaan yang paling hakiki ini, yaitu untuk menikmati dan berbahagia bersama-sama didalam hubungan pelayanan cinta bakti rohani dengan Tuhan, namun sebagai Ayah Yang Maha Karunia dan penuh kasih sayang, sepanjang masa senantiasa Beliau berkenan untuk tetap melengkapi makhluk hidup dengan hukum-hukum alam, kitab-kitab suci, dan orang-orang suci supaya makhluk hidup dapat belajar, berjalan dalam pencerahan untuk kembali kepada Tuhan.

[Read the rest of this entry...]

Ala Ayuning Wuku

Setelah membaca Mitologi Pawukon yang menceritakan terjadinya wuku atau pawukon, berikut ini penggolongan wuku yang berkaitan dengan penentuan ala ayuning wuku (baik buruknya hari). Sekilas kita rangkum kembali, wuku jumlahnya 30, dimana masing-masing wuku dalam rentang 7 hari dimulai pada hari Minggu (Redite) dan berakhir pada hari Sabtu (Saniscara). Urutan wuku adalah sebagai berikut:

  1. Sinta
  2. Landep
  3. Ukir
  4. Kulatir
  5. Taulu/Tolu
  6. Gumbreg
  7. Wariga
  8. Warigadean
  9. Julungwangi
  10. Sungsang
  11. Dungulan
  12. Kuningan
  13. Langkir
  14. Medangsia
  15. Pujut
  16. Pahang
  17. Krulut
  18. Merakih
  19. Tambir
  20. Medangkungan
  21. Matal
  22. Uye
  23. Menail
  24. Prangbakat
  25. Bala
  26. Ugu
  27. Wayang
  28. Kelawu
  29. Dukut
  30. Watugunung

Wuku tersebut kemudian secara garis besar dikelompokkan menjadi 4 kelompok  sebagai berikut:
[Read the rest of this entry...]

Watugunung Dihidupkan Kembali

Berikut ini bagian terakhir setelah Sang Watugunung berhasil dikalahkan, karena pada saat mengungkapkan rahasia mengenai kelemahannya didengarkan oleh Bhagawan Lumanglang yang sedang berupa laba-laba, kemudian memberitahu Dewa Wisnu.

Besoknya adalah hari Anggara Pahingnya  mayatnya ditarik-tarik oleh Sang Lumanglang, sehingga hari itu disebut  hari ”paid-paidan”. Hari Budha Pon datanglah Bhagawan Budha, sang  Watugunung dihidupkan kembali, tetapi hanya satu dauh, kemudian dibunuh  kembali oleh Batara Wisnu, hari itu disebut Budha Urip.  Hari Wrhaspati  datanglah Bhagawan Wrhaspati dengan rasa kasihan benar kepada sang  Watugunung, sehingga dihidupkan kembali tetapi sebentar, kemudian  dibunuh kembali oleh Hyang Wisnu, hari itu disebut Panetan.

Pada hari Jumat Kliwon, Hyang Siwa  mengetahui bahwa sang Watugunung mati dan turunlah beliau untuk  menghidupkan kembali sang Watugunung, harinya disebut dengan  Pangredanan.  Saat itu datanglah Batara Wisnu hendak membunuhnya kembali  namun dapat dicegah oleh Batara Siwa, sabdanya: ”Hai anakku, janganlah  hendaknya sang Watugunung dibunuh, biarkanlah untuk hari-hari  selanjutnya supaya diingat orang sebagai bahan pertimbangan atau  perbandingan.” Maka menjawablah sang Batara Wisnu, sabdanya: ”Yang  Watugunung amat besar dosanya, mengawini orang yang sudah bersuami dan  memperistri ibunya sendiri”.
[Read the rest of this entry...]

Watugunung Membocorkan Rahasia Kesaktian

Telah diceritakan Sang Watugunung menaklukkan banyak kerajaan kemudian sampai istrinya ngidam mempunyai pembantu yang tidak lain adalah permaisuri Hyang Wisnu, sampai kemudian dikutuk oleh Sang Hyang Sangkara. Berikut lanjutannya.

Tersebutlah lagi pertempuran Sang Hyang  Ari berhadapan dengan si Watugunung, lalu keluarlah api yang amat hebat  dari kurma perwujudan Hyang Wisnu, disemburlah si Watugunung, dibelit  oleh bajra ditikam dengan cakra. Akhirnya kalahlah sang Watugunung,  tembus dadanya.  Berkatalah sang Watugunung: ”Ih Hyang Wisnu sekarang  matilah aku dengan marahnya lalu mengatakan, aku tidak akan  henti-hentinya bermusuhan dengan diriu, sampai kepada penjelmaanku yang  ketujuh aku tidak akan melupakan hal ini. Hyang Wisnu berkata: ”benar  katamu itu, tetapi dimanakah engkau akan menjelma? Katakanlah!  Sang  Watugunung menjawab aku akan menjelma di Lengka dengan nama Dasasia dan  sebaliknya menanyakan kepada Hyang Wisnu di mana akan menjelma nanti?   Hyang Aribuana menjawab (bersabda): ”Ih Watugunung, kalau demikian  katamu aku akan menjelma di Yodyapura; pada maharaja Dasaratha dan  setiap kali aku lahir, selalu dapat membunuh dirimu!” akhirnya  meninggallah sang Watugunung. Demikianlah diceritakan tentang sang  Watugunung yang termuat dalam lontar Medangkamulan lembar 1a – 9b.

Tentang cerita lahirnya Wuku yang pernah  termuat dalam majalah Bhagawanagara, disebut pula dipetik dari lontar  Medan Kamulan dengan jalan cerita yang agak berbeda seperti di bawah  ini.  Tersebutlah setelah istri sang Watugunung keduanya minta  permaisuri sang Hyang Wisnu sebagai pembatunya (babu), dengan segera  sang Watugunung mengutus sang Warigadian ke Surga, membawa surat ke  hadapan Hyang Ari. Setelah surat itu dibawa, Hyang Wisnu amat marah dan  segera menantang sang Watugunung untuk bertempur.  Hal itu disampaikan  oleh sang Warigadian yang mengakibatkan sang Watugunung menjadi marah,  segera memerintahkan memukul kentongan, rakyatnya semua berkumpul  lengkap dengan senjata, segera menyerbu ke surga.
[Read the rest of this entry...]




  • Categories