<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Hindu Dharma</title>
	<atom:link href="http://www.hindu-dharma.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hindu-dharma.org</link>
	<description>Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma</description>
	<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 07:08:03 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Suara yang Paling Indah</title>
		<link>http://www.hindu-dharma.org/2011/03/suara-yang-paling-indah/</link>
		<comments>http://www.hindu-dharma.org/2011/03/suara-yang-paling-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 01:55:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengempon</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[Susila]]></category>

		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hindu-dharma.org/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[Seorang tua yang tak berpendidikan tengah mengunjungi sebuah kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun di pegunungan yang terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya yang modern
Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang tua yang tak berpendidikan tengah mengunjungi sebuah kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun di pegunungan yang terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya yang modern</p>
<p>Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar semacam itu di dusunnya yang sunyi. Dia bersikeras mencari sumber bunyi tersebut. Dia mengikuti sumber suara sumbang itu, dan tiba-tiba di sebuah ruangan di belakang sebuah rumah, dimana seorang anak kecil sedang belajar bermain biola.<br />
<span id="more-382"></span><br />
‘Ngiik! Ngook! Berasal dari nada sumbang biola tersebut.</p>
<p>Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan biola, dia memutuskan untuk tidak akan pernah mau lagi mendengar suara yang mengerikan tersebut.</p>
<p>Hari berikutnya di bagian lain kota, orang tua ini mendengar sebuah suara yang seolah membelai-belai telinga tuanya. Belum pernah dia mendengar melodi yang seindah itu di lembah gunungnya, dia pun mencoba mencari sumber suara tersebut. Ketika sampai ke sumbernya, dia tiba di ruangan depan sebuah rumah, dimana seorang perempuan tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.</p>
<p>Seketika, si orang tua ini menyadari kekeliruannya. Suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik.<br />
Dengan kebijaksanaan polosnya , orang tua itu berpikir bahwa mungkin demikian pula halnya dengan agama. Sewaktu kita bertemu dengan seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajarseorang pemula yang belum bisa memainkan agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan seorang bijak, seorang maestro agamanya, itu merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita selama bertahun-tahun, apa pun kepercayaan mereka.</p>
<p>Namun, ini bukanlah akhir dari cerita.</p>
<p>Hari ketiga, di bagian lain kota, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan dan kejernihan suara sang maestro biola. Menurut Anda, suara apakah itu?</p>
<p>Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan pada musim semi, melebihi indahnya suara angin musim gugur di sebuah hutan, melebihi merdunya suara burung-burung pegunungan yang berkicau setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan hening pegunungan sunyi pada suatu malam musim salju. Suara apakah gerangan yang telah menggerakkan hati si orang tua melebihi apa pun itu?</p>
<p>Itu suara sebuah orkestra yang memainkan sebuah simfoni.</p>
<p>Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, pertama, setiap anggota orkestra merupakan maestro alat musiknya masing-masing; dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni.</p>
<p>Mungkin ini sama dengan agama, pikir si orang tua. Marilah kita semua mempelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran-pelajaran kehidupan. Marilah kita semua menjadi maestro cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu, setelah  mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar bermain, seperti halnya para anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan penganut agama lain, dalam sebuah harmoni!</p>
<p>Itulah suara yang paling indah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hindu-dharma.org/2011/03/suara-yang-paling-indah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Vegetarian dan Ahimsa</title>
		<link>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/vegetarian-dan-ahimsa/</link>
		<comments>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/vegetarian-dan-ahimsa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 23:38:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengempon</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Susila]]></category>

		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>

		<category><![CDATA[filosofis]]></category>

		<category><![CDATA[hindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hindu-dharma.org/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini lanjutan dari Pandangan Hindu terhadap Vegetarian dari uraian sebelumnya.
Hingsa-karma, perbuatan membunuh-bunuh, adalah adharma, bertentangan dengan agama. Tan sayogya prihen, dia tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang sedang mencoba melaksanakan ajaran-ajaran agama. Apalagi ia didapatkan dengan berbagai kesulitan dan memberikan penderitaan besar kepada binatang bersangkutan (atikasta)[8]. Lebih jauh, ajaran karma-phala juga dijabarkan dengan cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini lanjutan dari Pandangan Hindu terhadap Vegetarian dari <a href="http://www.hindu-dharma.org/2010/09/pandangan-hindu-terhadap-vegetarian">uraian sebelumnya</a>.</p>
<p>Hingsa-karma, perbuatan membunuh-bunuh, adalah adharma, bertentangan dengan agama. Tan sayogya prihen, dia tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang sedang mencoba melaksanakan ajaran-ajaran agama. Apalagi ia didapatkan dengan berbagai kesulitan dan memberikan penderitaan besar kepada binatang bersangkutan (atikasta)[8]. Lebih jauh, ajaran karma-phala juga dijabarkan dengan cukup tegas dan keras:</p>
<p>Dia yang suka menangkap ikan, dalam penjelmaannya yang akan datang pasti menjadi ikan. Mereka yang mengembangkan sifat-sifat seperti harimau pasti bisa menjelma menjadi harimau pula.[9] Bagaimanapun cara yang ditempuh untuk menjelaskan ajaran Ahimsa, namun di dalam cara-cara yang pada berbeda tersebut ada kesamaan yang perlu dicatat yaitu sama-sama menjelaskan Ahimsa sebagai kegiatan yang bebas dari kekerasan, dan sama-sama menerimanya sebagai salah satu cara  pelaksanaan ajaran agama Hindu yang tertinggi/tersuci, kalau tidak bisa disebutkan sebagai yang tertinggi atau tersuci.<br />
<span id="more-360"></span><br />
Diantara pendapat-pendapat tersebut ada dua kelompok pendapat yang agak menonjol. Yang satu menafsirkan bahwa Ahimsa berarti tidak melakukan kekerasan dalam bentuk tidak membunuh-bunuh makhluk hidup apa pun, termasuk pula tidak memakan dagingnya. Yang satu lagi menafsirkan bahwa Ahimsa dimaksudkan sebagai tidak melakukan kekerasan dalam bentuk tidak menyakiti hati orang lain.</p>
<p>Pendapat-pendapat ini akhirnya mempengaruhi orang untuk mengamalkan ajaran Ahimsa dengan cara setengah-setengah dan agak &#8220;eksentrik&#8221;. Ada yang mengamalkan Ahimsa dengan cara berhati-hati dalam berkata-kata dan bertingkah laku agar tidak menyinggung atau tidak menyakiti hati orang lain, sambil tetap makan daging, dan bila diperlukan, ia juga siap menggorok atau memotong binatang. Mereka berpendapat inilah maksud yang sebenarnya dari Ahimsa.</p>
<p>Sedangkan ada pula yang melaksanakan ajaran Ahimsa dengan cara sama sekali tidak berani membunuh-bunuh makhluk lain, sangat ketat menjaga pantangan dalam makan memakan, bahkan sampai telorpun mereka tidak mau menyentuhnya. Tetapi, ia tidak segan-segan memukul atau menyakiti binatang-binatang, bahkan manusia sekalipun. Mereka tidak mengontrol diri dalam berkata-kata dan bertingkah laku.</p>
<p>Apakah kata-kata dan tingkah lakunya menyakiti hati orang lain ataukah tidak, mereka tidak perduli sama sekali. Bahkan kita dapat melihat di masyarakat banyak orang yang merasa berbahagia bila dapat menyakiti hati orang lain dengan kata-katanya yang tajam menusuk, sambil tetap mengatakan dirinya sebagai orang yang sedang mengamalkan ajaran suci Ahimsa.</p>
<p>Kedua cara tersebut di atas, dapat dikatakan sebagai cara pelaksanaan ajaran Ahimsa dengan cara tidak sempurna atau setengah-setengah. Mereka yang tidak membunuh-bunuh dan tidak memakan daging binatang tetapi merasa tidak apa-apa jika menyakiti hati orang lain, &#8212; masih melaksanakan ajaran Ahimsa secara tidak lengkap.</p>
<p>Yang lain, berpantang menyakiti hati orang lain tetapi tetap memakan daging, &#8212; ini juga bukanlah pelaksanaan ajaran Ahimsa secara lengkap. Pelaksanaan Ahimsa secara sempurna adalah gabungan dari keduanya, yaitu tidak makan daging, ikan dan telor, dan di saat yang sama juga hendaknya berusaha untuk tidak menyakiti makhluk lain, baik dengan pikiran, kata-kata, maupun dengan perbuatan, apalagi sampai membunuh-bunuh. Pelaksanaan ajaran Ahimsa secara lengkap beginilah yang disebutkan sebagai Ahimsa paramo dharmah, atau  pelaksanaan ajaran agama tertinggi.</p>
<p>Permainan drama, bagaimanapun baiknya jika ia hanya setengah-setengah, tidak akan mampu memuaskan siapapun. Pelaksanaan ajaran Ahimsa yang setengah-setengah, kurang lebih adalah sebuah pertunjukan &#8220;drama&#8221; tidak lengkap. Oleh karena itu, pelaksanaan tidak lengkap tersebut sama sekali tidak akan mampu memberikan pahala maksimal berupa kedamaian dan kebahagiaan sejati kepada pelaksananya.</p>
<p>Pelaksanaan Ahimsa hendaknya dilaksanakan secara lengkap dan &#8220;alami&#8221;. Kapan orang melaksanakan ajaran Ahimsa secara wajar dan &#8220;nyarira&#8221; atau &#8220;alami&#8221;, di saat itulah mereka akan merasakan keindahan Ahimsa dan vegetarian. Dan, di saat itulah orang akan menemukan dirinya sebagai seorang Hindu ideal, yang mestinya telah terjadi jauh-jauh sebelumnya. Di saat itu pula mereka tidak akan melihat orang melakukan vegetarian sebagai sesuatu yang istimewa, sebab memang, semuanya adalah wajar-wajar saja.</p>
<p>Dalam keadaan seperti itu, anjuran-anjuran, perintah-perintah dan larangan-larangan kitab-kitab suci serta lontar-lontar yang kadang-kadang kelihatan cukup keras tidak akan dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan lagi. Anak-anak yang secara sadar telah tidak suka memelihara kuku panjang, tidak akan takut-takut lagi terhadap anjuran, perintah dan larangan guru-gurunya.</p>
<p>&#8220;Ahimsa ngaranya tan pamati-mati sarva-prani, nguniweh janma manusa, maweh wuwus tan ayukti, mahala kira-kiranya ring len&#8221;,[10] &#8212; ditegaskan di dalam lontar leluhur bahwa &#8220;tan pamati-mati&#8221; atau tidak membunuh-bunuh dimaksudkan tidak membunuh-bunuh segala makhluk hidup (sarva-prani). Berdasarkan bukti lontar ini, lengkaplah kesamaan dan kesejalanan ajaran leluhur kita (khususnya tentang Ahimsa) dengan ajaran suci Veda. Dengan demikian, alasan untuk ragu-ragu sudah tidak ada lagi.</p>
<p>Biasanya, dalam tradisi penyampaian ajaran suci Veda kita dapat mengenal arti, makna, maksud dan tujuan sesuatu lewat kata atau istilah yang dipakai, seperti misalnya seorang anak disebut sebagai Putra, seorang suami disebut Svami, orang suci yang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sannyasi, Svami, Gosvami, dan lain-lain, seperti itu pula kita dapat mengetahui arti, makna, maksud dan tujuan dari kata Mamsa (daging).</p>
<p>Kata Mamsa berasal dari mam dan sah. Mam berarti aku, dan sah berarti dia. Mamsa berarti dia yang dagingnya aku makan sekarang akan memakan aku dalam hidup yang akan datang (mam sah khadati iti mamsah).</p>
<p>Kitab Manu Smrti dan Mahabharata juga memberikan penjelasan yang sama terhadap kata mamsa yang berarti daging. Hal ini menunjukkan agama Hindu memandang &#8220;serius&#8221; masalah Ahimsa dan vegetarian.</p>
<p>Manu Smrti menyebutkan bahwa &#8220;Mamsah yang berarti daging, pada hakekatnya dinyatakan oleh orang-orang bijaksana berarti &#8217;saya dia&#8217; yaitu dia yang dagingnya saya telan dalam hidup ini, menelan saya di kemudian hari.&#8221;[11] Hal yang sama juga diakui di dalam kitab Mahabharata:</p>
<p>&#8220;Sekarang dia menelan saya, nanti saya pun akan memakannya,&#8221; &#8212; mam sa bhaksayate yasmad bhaksayisye tamapyaham.[12] Ajaran Mam Sah ini di beberapa kitab dijabarkan lagi lewat berbagai cerita. Salah satu di antaranya adalah cerita Maharaja Puranjana yang selama hidupnya banyak membunuh-bunuh binatang. Di naraka ia ditunggu oleh semua binatang yang ia pernah bunuh, dan semua menyerang, menggigit dan menyiksanya dengan ganas.</p>
<p>______________________<br />
Referensi:<br />
[8]lontar kekawin Astikasraya: hingsa-karma adharma donta ati-kasta tan sayogya prihen.<br />
[9]lihat lontar Arjuna Vivaha.<br />
[10]Lihat lontar Panca Sikñä.<br />
[11]Mamsa bhaksayitamutra yasya mamsam ihadmyaham etan mamsasya mamsatvam pravadanti manisinah.<br />
[12]nasihat Resi Bhisma kepada Maharaja Yudhisthira dalam Mahabharata.<br />
[13]Tribhir guna-mayair bhävair ebhih sarvam idam jagat mohitam nabhijananti mam ebhyah param avyayam (Srimad Bhagavad-gita 7.13).</p>
<p>Sumber: HDNet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/vegetarian-dan-ahimsa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pandangan Hindu terhadap Vegetarian</title>
		<link>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/pandangan-hindu-terhadap-vegetarian/</link>
		<comments>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/pandangan-hindu-terhadap-vegetarian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 23:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengempon</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Susila]]></category>

		<category><![CDATA[agama]]></category>

		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>

		<category><![CDATA[hindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hindu-dharma.org/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Om Namo Narayanaya.
Om Buddhagni-devaya namah.
Sejak dahulu kala, para leluhur bangsa Indonesia telah mengenal cara hidup vegetarian. Tetapi, pada umumnya pengertian/pengenalan terhadap vegetarian tersebut adalah sebagai cara orang-orang untuk mematangkan &#8220;ilmu&#8221; tertentu. Bahkan sekarang pun orang masih tetap beranggapan bahwa cara hidup vegetarian adalah cara yang &#8220;tidak normal&#8221;, yang hanya dilakukan oleh orang-orang tua atau beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Om Namo Narayanaya.<br />
Om Buddhagni-devaya namah.</p>
<p>Sejak dahulu kala, para leluhur bangsa Indonesia telah mengenal cara hidup vegetarian. Tetapi, pada umumnya pengertian/pengenalan terhadap vegetarian tersebut adalah sebagai cara orang-orang untuk mematangkan &#8220;ilmu&#8221; tertentu. Bahkan sekarang pun orang masih tetap beranggapan bahwa cara hidup vegetarian adalah cara yang &#8220;tidak normal&#8221;, yang hanya dilakukan oleh orang-orang tua atau beberapa anak muda yang sedang &#8220;mematangkan ilmu&#8221;, sedang mempelajari kerohanian, dan lain-lain semacam itu.</p>
<p>Dalam masyarakat Hindu di Indonesia, hanya sebagian kecil umat yang telah menyadari ke-&#8221;alami&#8221;-an cara hidup vegetarian sebagai seorang pemeluk agama Hindu. Mereka adalah orang-orang yang terkelompok dalam berbagai perkumpulan dan organisasi agama atau kerohanian. Di dalam kelompok ini pun sebagian besar mereka masih beranggapan bahwa mereka melaksanakan vegetarian hanyalah sebagai persyaratan ajaran dalam perkumpulan atau organisasi mereka. Mereka belum melihat ke-&#8221;alami&#8221;-annya sebagai seorang umat manusia, atau sebagai seorang pemeluk agama Hindu untuk melaksanakan vegetarian.<br />
<span id="more-358"></span><br />
Agama Hindu adalah agama yang sangat sederhana dan alami.  Tetapi, walaupun demikian, ia tetap sangat sulit dimengerti oleh mereka yang menjauh dari kesederhanaan dan kealamian. Kesederhanaan adalah sangat indah, dan kealamian adalah sangat wajar. Orang-orang tidak lagi menyadari bahwa keindahan dan kewajaran sangat diperlukan dalam hidup ini. Sebab, ia akan mengantarkan orang kepada kebahagiaan yang sejati, dan bukan kesukaan biasa, yang juga dapat dirasakan oleh makhluk-makhluk lain seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan.</p>
<p>Keutamaan dalam hal makan memakan sangat ditekankan dalam agama Hindu. Makan memakan bukan hanya bertujuan memelihara dan menjaga kesehatan badan tetapi makan memakan juga adalah sebuah sadhana bagi umat Hindu dalam rangka mengamalkan ajaran-ajaran suci untuk mencapai tujuan hidup yang sejati, bebas dari kesengsaraan duniawi (Moksa).</p>
<p>Mengenai cara hidup vegetarian, sering umat terpelajar dalam masyarakat Hindu pun mengabaikannya, dengan memasukkan teori-teori menarik yang menaburkan janji-janji kesehatan, sambil menolak pendapat serta hasil penyelidikan para dokter dan para ahli yang telah dilakukan bertahun-tahun dengan bersusah payah dan teliti.</p>
<p>Adalah tidak apa-apa jika orang menolak vegetarian dan meneruskan memakan daging. Tetapi, adalah hal yang tidak sepatutnya terjadi jika seseorang mulai; mencampuri cara hidup orang yang melaksanakan vegetarian, menakut-nakuti mereka dengan alasan kesehatan, kekuatan badan dan kecerdasan otak, melarang orang melaksanakan hidup vegetarian dengan mengatakan cara hidup vegetarian adalah cara yang bertentangan dengan ajaran agama Hindu, dan lain-lain alasan.</p>
<p>Kecendrungan-kecendrungan seperti ini di kalangan orang-orang terpelajar semestinya sudah tidak ada lagi, sebab selain ia merugikan orang lain ia juga merugikan diri sendiri. Paling tidak, “orang-orang terpelajar” tersebut akan menjadi “tidak terpelajar” di hadapan orang-orang terpelajar. Sedangkan sifat-sifat demikian adalah sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran agama Hindu. Berikut kita akan melihat keindahan ajaran-ajaran agama Hindu kita tentang hidup vegetarian.</p>
<p>Ahimsa Parama Dharma<br />
Ahimsa berarti tanpa kekerasan, dan parama berarti tertinggi. Sedangkan kata dharma berarti kewajiban-kewajiban suci, atau, seperti halnya dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia juga meneri- ma terjemahannya sebagai agama. Dengan demikian Ahimsa Paramo Dharmah dapat diartikan sebagai kewajiban suci yang tertinggi, agama atau pelaksanaan agama yang paling tinggi.</p>
<p>Hal ini ditegaskan berkali-kali di berbagai kitab suci Veda dengan istilah-istilah yang sama atau juga dengan istilah-istilah yang berbeda, seperti Ahimsayah paro dharmah,[1] Ahimsa laksano dharmah,[2] Ahimsa parama tapa, Ahimsa parama satya,[3] dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa agama Hindu kita menaruh perhatian yang sangat penting pada ajaran tanpa kekerasan dan cara hidup vegetarian.</p>
<p>Kembali kita melihat penekanan paragraf di atas, bahwa Ahimsa parama dharma berarti pelaksanaan kewajiban-kewajiban suci yang tertinggi, atau pelaksanaan ajaran agama Hindu yang termurni atau tertinggi. Penjelasan ini secara langsung telah berarti bantahan terhadap anggapan-anggapan negatif terhadap para pelaku Ahimsa dan vegetarian. Apalagi jika mempunyai kesempatan yang lebih lagi untuk melihat bukti-bukti keagungan ajaran Ahimsa dan vegetarian dalam literatur Veda, orang akan dipaksa menundukkan kepala diiringi rasa kagum terhadap ajaran-ajaran kitab suci Veda kita.</p>
<p>Alasan lain Ahimsa disebut sebagai Parama Dharma juga adalah karena Ahimsa dan vegetarian merupakan pintu gerbang pertama bagi orang untuk mendekati pembebasan (Ahara-suddhau &#8230;. sarva-granthinam vipra moksah).[4]</p>
<p>Bukan hanya dalam literatur Veda kita dapat jumpai ajaran indah tentang Ahimsa dan vegetarian tetapi juga dalam lontar-lontar serta tradisi warisan leluhur kita.</p>
<p>Lontar Mahesvari Sastra menyebutkan: &#8220;Apan yan tan karaksang Ahimsa brata, maka nimitta kroddha, moha, mana, mada, matsarya, nguni-unin makanimittang kama, yeka panten dadanya&#8221;,[5] sebab jika ajaran-ajaran brata Ahimsa tidak dipelihara, maka ia akan menyebabkan berkembangnya sifat-sifat kemarahan, khayalan, kebanggaan, kebingungan, rasa iri hati, dan bahkan ia dapat menyebabkan tumbuh suburnya hawa nafsu yang menggebu-gebu, yaitu musuh di dalam diri setiap makhluk hidup yang paling sulit dikendalikan (kama-rupa durasadam).</p>
<p>Selanjutnya lontar Mahesvari Sastra menunjukkan daftar nama-nama binatang, burung dan/atau bangsa burung yang tidak boleh dimakan. Khususnya bagi para pendeta, berkali-kali diperingatkan: &#8220;Tan bhaksya ika de sang siddhanta brata, tan bhaksya nika, tan bhukti nika&#8221;, &#8212; tidak boleh dimakan semua itu oleh para pendeta yang ingin mantap dalam  pantangan-pantangan suci.</p>
<p>Kadang-kadang, orang berpendapat bahwa hanya para Vaisnava sajalah yang melaksanakan vegetarian atau pantangan-pantangan daging, ikan (telor, terasi, bawang merah, bawang putih dan lain-lain). Di Bali lontar Vrhaspati Tattva dikenal sebagai lontar ke-Saiva-an. Ternyata, menurut lontar ini, para Saiva pun perlu melaksanakan ajaran Ahimsa, tidak membunuh-bunuh dan tentu pula tidak memakannya (Ahimsa ngaranya tan pamati-mati)[6].</p>
<p>Ajaran Saiva juga mengajarkan pengikutnya untuk maju terus dalam kerohanian. Semakin maju seseorang di dalam kerohanian biasanya semakin maju pula ia dalam hal berpantangan dan pelaksanaan kesucian. Lebih-lebih bagi mereka yang telah mampu mencapai meditasi tingkat pendeta, menurut lontar ajaran leluhur kita, adalah merupakan keharusan untuk meningkatkan kesucian dan tidak membunuh-bunuh makhluk lain (kadi buddhi sang pandita, sahisnu tan prana-ghata &#8230;. nguniweh tan hingsa-karma tan pamati-mati)[7]. Bahkan, ada pula ajaran-ajaran leluhur kita di dalam lontar bernada amat keras, seperti  misalnya lontar kekawin Astikasraya dan kekawin Arjuna Vivaha.<br />
(bersambung)</p>
<p>_____________________</p>
<p>Referensi<br />
[1]dikutip dari Yogasara Samgraha.<br />
[2]Resi Canakya dalam Canakya Sutra Sangraha.<br />
[3]Wejangan Resi Bhisma kepada Yudhisthira dalam  Mahabharata.<br />
[4]Chandogya Upanisad.<br />
[5]Lontar Mahesvari Sastra 2b.<br />
[6]Vrihaspatii Tattva60.<br />
[7]lihat Tantri Kamandaka.</p>
<p>Sumber: HDNet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/pandangan-hindu-terhadap-vegetarian/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Beragama yang Sederhana</title>
		<link>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/beragama-yang-sederhana/</link>
		<comments>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/beragama-yang-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 23:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengempon</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[agama]]></category>

		<category><![CDATA[hindu]]></category>

		<category><![CDATA[karakter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hindu-dharma.org/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Prabu Darmayasa
Kita jarang menyadari bahwa agama itu ke dalam, ada didalam, ya didalam hati, didalam jiwa, didalam roh kita. Biasanya kita menganggap yang agama itu adalah kalau kita &#8220;meriah-meriahan&#8221; di luar. Bahwa agama itu kalau yang ada kegiatan bebanten di luar. Bahwa agama itu kalau ada mantram-mantram dengan penyesuaian suara genta.
Bahwa agama itu kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh:  Prabu Darmayasa</p>
<p>Kita jarang menyadari bahwa agama itu ke dalam, ada didalam, ya didalam hati, didalam jiwa, didalam roh kita. Biasanya kita menganggap yang agama itu adalah kalau kita &#8220;meriah-meriahan&#8221; di luar. Bahwa agama itu kalau yang ada kegiatan bebanten di luar. Bahwa agama itu kalau ada mantram-mantram dengan penyesuaian suara genta.</p>
<p>Bahwa agama itu kalau kita mengirim &#8220;Juru Arah&#8221; pergi ke rumah-rumah mengumumkan ada kegiatan ini itu di pura ini atau itu, ada acara nampah ini dan itu, &#8212; ya seperti itulah agama.</p>
<p><span id="more-356"></span>Bahwa yang namanya agama itu kalau kita bersama-sama dan beramai-ramai &#8220;menyetujui&#8221; aktivitas tertentu yang kita &#8220;poleskan&#8221; agama.<br />
Bahwa agama itu kalau datang dari lembaga Parisada atau dari kantor agama.<br />
Bahwa agama itu adalah kitab suci.<br />
Bahwa agama itu adalah ada acara nampah, ada tarian rejang, ada pemasangan umbul-umbul.<br />
Bahwa agama itu kalau kita berdiskusi kitab-kitab suci dan lontar-lontar, dan lain-lain, dan lain-lain.</p>
<p>Jarang kita secara sadar bersedia menerima bahwa agama itu berarti aktivitas mental spiritual ke dalam, karena agama itu ada didalam, ada di jiwa kita, ada di roh kita.</p>
<p>Jarang kita bersedia menerima bahwa agama berarti kita &#8220;menghitung&#8221; diri kita terlebih dahulu sebelum memulai hitungan terhadap orang lain.<br />
Bahwa kita yang pertama harus ber&#8221;agama&#8221;,<br />
bahwa kita yang pertama &#8220;berubah&#8221;,<br />
bahwa kita harus melihat diri kita ada perubahan ke arah yang lebih baik, hari demi hari.</p>
<p>Mengenai orang lain, kita tidak ada hak dan sebaiknya tidak melihat apa dan bagaimana mereka. Sebab, sebelum kita memulai didalam, memulai ke dalam, memulai dari dalam, maka selama itu kita akan GAGAL memperbaiki orang lain, kita akan gagal melihat seperti apa yang ingin kita lihat didalam diri orang lain atai didalam masyarakat.</p>
<p>Pertanyaan pertama untuk diri kita sendiri mungkin HARUS disampaikan setiap hari, yaitu &#8220;Sudahkan saya mengingat/menyebut nama Narayana, Mahadeva &#8230;setiap pagi begitu saya bangun tidur?&#8221;</p>
<p>Pernah saya menekankan cara simple ini kepada puluhan orang. Tetapi, setelah berkali-kali memberikan penekanan, ketika saya tanya siapakah yang tekun mempraktekkannya, ternyata yang angkat tangan hanyalah 2 orang.</p>
<p>Ya&#8230;, hanya dua orang saja&#8230;. Hal itu menunjukkan bahwa masih sedikit diantara kita memberikan perhatian secara jujur pada praktek melainkan lebih menyukai &#8220;kesimpangsiuran&#8221; aturan peraturan agama, yang sering seberangan banjar telah berubah, tidak memiliki kesamaanm dan bahkan barangkali bertolak pinggang ehhhh &#8230;bertolak belakang&#8230;</p>
<p>Saya memiliki keyakinan kuat, bahwa perhatian pada praktek pribadi harus lebih dipentingkan, oleh kita semua tanpa terkecuali, dengan jujur dan berdisiplin diri, yang tidak usah orang lain tahu terhadap apa yang sedang kita lakukan. Praktek sederhana itu kita inginkan hanya dilihat oleh diri kita sendiri, hanya oleh kita, sebab ia harus DARI DIRI OLEH DIRI UNTUK DIRI.</p>
<p>Jika kita memperhatikan dengan teliti, ternyata banyak aturan-peraturan agama di masyarakat yang tidak sejalan dengan kitab suci, dan ia berperan keras dalam membuat kita menjadi malas untuk praktek sederhana, yang menyebabkan kita tidak suka beragama kedalam sebab lebih suka sibuk dalam aturan peraturan yang tidak memiliki kepastian sumber bonafid.</p>
<p>Postingan saya ini ada nada mementingkan sesuatu, bahwa dari sekian banyak Semeton HDnet yang membaca postingan ini, saya mengharapkan hanya seorang saja yang akan bertekad menerapkan disiplin bagun tidur menyebut nama Tuhan ini&#8230;., bukan untuk satu dua tahun, melainkan untuk seumur hidup&#8230;.Sarve sukhinah bhavantu&#8230;semoga semua berbahagia&#8230;</p>
<p>Sumber: HDNet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/beragama-yang-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendapat Beberapa Resi Hindu Tentang Ahimsa dan Vegetarian</title>
		<link>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/pendapat-beberapa-resi-hindu-tentang-ahimsa-dan-vegetarian/</link>
		<comments>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/pendapat-beberapa-resi-hindu-tentang-ahimsa-dan-vegetarian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 17:16:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengempon</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Susila]]></category>

		<category><![CDATA[ahimsa]]></category>

		<category><![CDATA[hindu]]></category>

		<category><![CDATA[vegetarian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hindu-dharma.org/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[1.Resi Patanjali:
&#8220;Ahimsa, mutlak harus dilakukan dalam segala waktu, tempat, keadaan dan kelahiran.&#8221;
2.Resi Sukra Acarya:
&#8220;Bagi mereka yang berkeinginan untuk mengembangkan sifat-sifat saleh, hendaknya jangan makan daging dan minu minuman keras.&#8221;
3.Maharesi Bhisma:
&#8220;Akibat lain dari makan daging adalah badan cepat lemah dan nafsu-nafsu jelek bertumbuhan.&#8221;
4.Devarsi Narada:
&#8220;Orang yang ingin menumbuhkan daging/ototnya dengan cara memasukkan daging makhluk lain ke dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.Resi Patanjali:<br />
&#8220;Ahimsa, mutlak harus dilakukan dalam segala waktu, tempat, keadaan dan kelahiran.&#8221;<br />
2.Resi Sukra Acarya:<br />
&#8220;Bagi mereka yang berkeinginan untuk mengembangkan sifat-sifat saleh, hendaknya jangan makan daging dan minu minuman keras.&#8221;<br />
3.Maharesi Bhisma:<br />
&#8220;Akibat lain dari makan daging adalah badan cepat lemah dan nafsu-nafsu jelek bertumbuhan.&#8221;<br />
4.Devarsi Narada:<br />
&#8220;Orang yang ingin menumbuhkan daging/ototnya dengan cara memasukkan daging makhluk lain ke dalam tubuhnya, orang tersebut pasti akan mengalami kedukaan.&#8221;<br />
5.Resi Brhaspati:<br />
&#8220;Mereka yanag tidak makan daging dan tidak minum madu, mereka memperoleh hasil seperti hasil dari sedekah, korban suci dan pertapaan.&#8221;<br />
6.Maharesi Markandeya:<br />
&#8220;Orang-orang yang tidak makan daging, belas kasihan terhadap setiap makhluk hidup, menghargai setiap makhluk hidup, dia selalu jauh dari penyakit-penyakit dan berumur panjang.&#8221;<br />
7.Resi Manu:<br />
&#8220;Setelah mempertimbangkan masak-masak soal asal usul yang menjijikkan dari daging dan kekejaman dalam menyiksa dan membunuh makhluk hidup, hendaknya orang meninggalkan sama sekali kebiasaan memakan daging.&#8221;<br />
8.Maharesi Vasistha:<br />
&#8220;Orang-orang bijaksana hendaknya memakan makanan apa saja yang dijumpai, tetapi tetap harus bebas dari daging dan sebangsanya. Membunuh-bunuh makhluk lain hendaknya ditiadakan. Pertimbangkanlah matang-matang jika ingin makan daging.&#8221;<br />
9.Resi Atri:<br />
&#8220;Tanpa kekerasan, pengampun, berkata-kata jujur, suka berderma, sederhana, cinta, gembira, manis, lembut dan tidak membunuh-bunuh, semua ini disebut Dasa Yama.&#8221;</p>
<p>Sumber: HDNet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/pendapat-beberapa-resi-hindu-tentang-ahimsa-dan-vegetarian/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih Hanya Memberi</title>
		<link>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/kasih-hanya-memberi/</link>
		<comments>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/kasih-hanya-memberi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 23:50:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengempon</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>

		<category><![CDATA[hindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hindu-dharma.org/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Kisah renungan tentang menebar benih kebaikan dan cinta kasih dilanjutkan lagi. Sekarang cerita lain&#8230;, di sebuah hutan di dekat sebuah desa terpencil, lewatlah seorang pendeta sambil berkomat-kamit dan tangannya memegang tasbih. Ketika pendeta melewati tepi sungai yang sedang banjir, beliau melihat seekor kalajengking terapung-apung berpegangan di sebatang ranting kecil yang berputar-putar di pusaran air di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah renungan tentang <a href="http://www.hindu-dharma.org/2010/09/jangan-berhenti-menebar-benih-kebaikan">menebar benih kebaikan dan cinta kasih</a> dilanjutkan lagi. Sekarang cerita lain&#8230;, di sebuah hutan di dekat sebuah desa terpencil, lewatlah seorang pendeta sambil berkomat-kamit dan tangannya memegang tasbih. Ketika pendeta melewati tepi sungai yang sedang banjir, beliau melihat seekor kalajengking terapung-apung berpegangan di sebatang ranting kecil yang berputar-putar di pusaran air di tepian sungai.</p>
<p>Melihat keadaan sang kalajengking seperti itu, sang pendeta merasa sangat kasihan. Beliau mendekat, tasbihnya dimasukkan ke dalam tas kainnya, lalu berjongkok dan mengulurkan tangan mencoba menyelamatkan kalajengking tersebut.</p>
<p>Begitu tangannya mendekat, kalajengking beraksi, mencoba menyerang dan menyengat tangan pendeta. Tentu saja Pendeta menjadi kaget dan menarik tangannya.</p>
<p>Selang beberapa lama, pendeta kembali mengulurkan tangan untuk menyelamatkan si kalajengking. Kalajengking kembali bereaksi beringas mencoba menyerang tangan pendeta. Lagi dan lagi pendeta mencoba menyelamatkan kalajengking, tetapi lagi dan lagi kalajengking berusaha menyerang tangan Sang Pendeta.</p>
<p>Keduanya memang berusaha. Tetapi, sang pendeta berusaha memberikan kasih untuk menyelamatkannya, sedangkan kalajengking berusaha menyakiti tangan pendeta dalam kecurigaan dan kemarahan.</p>
<p>Kejadian tersebut dilihat oleh seorang lelaki yang sedang lewat di jalan itu. Ia mendekati pendeta dan berkata, &#8220;Tuan pendeta&#8230;, mengapa anda tetap berusaha menolong kalajengking itu dari bahaya tenggelam? Bukankah ia selalu berusaha menyerang tangan anda? Makhluk jelek seperti itu lebih baik dibiarkan mati terhanyutkan oleh air bah&#8230;&#8221;</p>
<p>Pendeta melirik ke arah suara itu, tersenyum kepada lelaki tersebut sambil berkata, &#8220;Kalau kalajengking tidak mau meninggalkan sifat menyerangnya, mengapa saya harus meninggalkan sifat menolong saya?&#8221;</p>
<p>Lelaki itu tercenung sebentar, sambil mencakupkan tangan ia melanjutkan perjalanannya. Sedangkan sang pendeta tetap  melanjutkan pertolongannya, yang pada akhirnya berhasil juga menyelamatkan kalajengking&#8230;</p>
<p>Demikianlah, cerita ini saya sampaikan untuk membantu perenungan. Sebuah perenungan sangat penting bagi kita yang mencoba memperbaiki dan memajukan diri didalam spiritual&#8230;</p>
<p>Sumber: HDNet<br />
Oleh: Prabu Darmayasa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/kasih-hanya-memberi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penyembelihan Binatang Diperbolehkan untuk Tujuan Upacara</title>
		<link>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/penyembelihan-binatang-diperbolehkan-untuk-tujuan-upacara/</link>
		<comments>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/penyembelihan-binatang-diperbolehkan-untuk-tujuan-upacara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 23:03:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pengempon</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tattwa]]></category>

		<category><![CDATA[Upacara]]></category>

		<category><![CDATA[agama]]></category>

		<category><![CDATA[dharmasastra]]></category>

		<category><![CDATA[hindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hindu-dharma.org/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Setelah di posting sebelumnya disebutkan tentang pelarangan pembunuhan binatang dalam weda beserta sloka-sloka yang terkait dengan pelarangan tersebut  ,berikut ini tulisan dari Bhagawan Dwija tentang penyembelihan binatang yang diperbolehkan untuk tujuan upacara.
Dalam Manawa Dharmasastra Buku ke-5 pasal 22, 23, 28, 29, 31, 35, 39, 40, 41, 42, penyembelihan binatang dibolehkan. Lihat pasal-pasal berikut ini:
Pasal 39 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah di posting sebelumnya disebutkan tentang <a href="http://www.hindu-dharma.org/2010/09/pembunuhan-binatang-dilarang-dalam-weda/">pelarangan pembunuhan binatang dalam weda</a> beserta <a href="http://www.hindu-dharma.org/2010/09/sloka-pelarangan-membunuh-binatang/">sloka-sloka yang terkait dengan pelarangan</a> tersebut  ,berikut ini tulisan dari Bhagawan Dwija tentang penyembelihan binatang yang diperbolehkan untuk tujuan upacara.</p>
<p>Dalam Manawa Dharmasastra Buku ke-5 pasal 22, 23, 28, 29, 31, 35, 39, 40, 41, 42, penyembelihan binatang dibolehkan. Lihat pasal-pasal berikut ini:</p>
<p>Pasal 39 :<br />
Yajnartham pasawah sristah swamewa sayambhawa,<br />
yajnasya bhutyai sarwasya tasmadyajne wadho wadha.</p>
<p>Artinya :<br />
<em>Swayambhu telah menciptakan hewan-hewan untuk tujuan upacara-upacara kurban. Upacara-upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan seluruh bumi ini, dengan demikian penyembelihan hewan untuk upacara bukanlah penyembelihan dalam arti yang lumrah saja.<br />
</em><span id="more-353"></span><br />
Pasal 40 :<br />
Osadhyah pasawo wriksastir yancah paksinastatha,<br />
yajnartham nidhanam praptah prapnu wantyutsitih punah</p>
<p>Artinya :<br />
<em>Tumbuh-tumbuhan, semak-semak, pohon-pohon, ternak-ternak, burung-burung dan lain-lain yang telah dipakai untuk upacara, akan lahir dalam tingkatan yang lebih tinggi pada kelahirannya yang akan datang.<br />
</em><br />
Pasal 35 :<br />
Niyuktastu yathanyayam yo mamsam natti manawah, sa<br />
pretya pasutam yati sambhawaneka wimsatim</p>
<p>Artinya :<br />
<em>Tetapi seseorang yang memang tugasnya memimpin upacara atau memang tugasnya makan dalam upacara-upacara suci, lalu ia menolak memakan daging, malah setelah matinya ia menjadi binatang selama dua puluh satu kali putaran kelahirannya.<br />
</em><br />
Pasal 42 :<br />
Eswarthesu pacunhimsan weda tattwarthawid dwijah,<br />
atmanam ca pasum caiwa gamayatyuttamam gatim</p>
<p>Artinya :<br />
<em>Seorang Dwijati (Brahmana) yang mengetahui arti sebenarnya dari Weda, menyembelih seekor hewan dengan tujuan-tujuan tersebut diatas menyebabkan dirinya sendiri bersama-sama hewan itu masuk keadaan yang sangat membahagiakan.<br />
</em><br />
Kesimpulan :<br />
Menurut tradisi beragama Hindu di Bali, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Manawa Dharmasastra itu ditambah dengan Lontar-lontar antara lain Yadnya Prakerti, maka penyembelihan binatang untuk tujuan upacara dan makan, dibolehkan.</p>
<p>Dengan syarat, terlebih dahulu mohon kepada Bhatara Brahma &#8216;ijin untuk membunuh&#8217; yang dinamakan upacara &#8216;pati wenang&#8217;. Yang berdosa adalah membunuh binatang atau tumbuh-tumbuhan bukan untuk keperluan makan dan upacara, tetapi untuk kesenangan, misalnya menembak burung gelatik.</p>
<p>Apakah kitab-kitab yang seolah-olah kontradiktif ini akan membuat kita bingung? Saya rasa tidak. Kitab-kitab tersebut mesti &#8216;dibaca&#8217; secara mendalam bukan sekedar yang terlihat, kemudian disesuaikan dengan guna karma kita masing-masing. Kalau kita hubungkan dengan ilmu medis modern, bahkan setiap individu mempunyai <a href="http://www.kadeksugi.info/2010/08/pilih-makanan-berdasarkan-golongan-darah/">kecenderungan dalam kecocokan makanan</a>. Bagi yang masih merasa nyaman dengan makanan yang mengorbankan binatang, maupun yang memilih untuk tidak mengorbankan binatang semestinya dapat saling memahami.</p>
<p>Yang jauh lebih penting, bagaimana sloka-sloka dalam kitab suci tersebut bisa memberikan tuntunan bagi kita semua untuk menjadi lebih baik dalam kehidupan di dunia ini. Baik buruknya perbuatan kita itulah nantinya yang akan menjadi nilai rapor dalam menentukan apakah kita naik kelas pada kehidupan berikutnya, atau bahkan bisa lulus alias mencapai Moksa.</p>
<p>Sumber: HDNet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hindu-dharma.org/2010/09/penyembelihan-binatang-diperbolehkan-untuk-tujuan-upacara/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

