Refleksi Nyepi Pendakian Spiritual

Sebagai umat Hindu semestinya kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan bahwa Raja Khaniska I keturunan Dinasti Kusana telah mewariskan nilai-nilai tentang sikap toleransinya yang lahir dari kebangkitan umat beragama ; baik Agama Hindu,  Bhuda, Hindu Sekte Siwa, Wisnu, Tantri, Tirtha dan lain sebagainya.

Kebangkitan dan toleransi ini menyebar sampai ke seluruh negeri seperti; Timur Tengah, Asia Tengah, Tibet, Cina, Jepang juga benua Asia (India), Birma, Srilangka dan Asia Tenggara termasuk Indonesia menuju Pulau Jawa dan mendarat di Desa Waru, Rembang Jawa Tengah. Beliaulah Sang Aji Saka  seorang Pandita yang bergelar Aji Saka. Begitu antusiasnya umat pribumi di tanah Jawa terhadap kebangkitan dan toleransi beragama sehingga tercermin dalam karya Empu Tantular “Bineka Tunggal Ika Tan Ana Dharma Mangrwa  (Berbeda itu tidak ada kebenara  yang mendua).

Untuk Merefleksikan Nyepi dalam pendakian spiritual. Ada enam cara memperoleh karunia Tuhan yang diamanatkan di dalam MANAWA DHARMASASTRA. XII.83

VEDAA BHAVAASASTAPOJNANAM, INDRIYANAAM CA SAMYAMAH, AHIMSAA GURU SEVAA CA, NISREYASAKARAM PARAM

(Mempelajari Veda, melakukan tapa, memcari pebgetahuan yang benar, menundukan panca indria, tidak menyakiti mahluk lain dan melayani guru)

Rangkaian Nyepi inilah sebagai momentum untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya dalam mengarungi kehidupan yang tidak luput dari suka dan duka. Pertama-tama kita lakukan upacara  penyucian alam semesta secara niskala,  untuk menghilangkan segala bentuk penderitaan masryarakat (laraning jagat) menghilangkan penderitaan bathin (papa klesa)  dan mengharmoniskan vibrasi energi negatif alam semesta (letuhing bhuana)  ini esensi dari Ritual Melasti/Mekiis. Di dalam RGVEDA. II.35.3 dejelaskan bahwa “Air yang berasal dari mata air dan laut mempunyai kekuatan untuk menyucikan.”

Setelah melakukan penyucian baru kita melakukan persembahan berupa TAWUR ini dilakukan demi untuk menjaga keseimbangan kosmos dan harmonisasi hubungan yang erat antara Bhuana Agung (alam semesta) dengan bhuana alit  (manusia). Keseimbangan ini harus tetap terjaga karena manusia sangat tergantung kepada alam. Makna dari TAWUR ini adalah bukan hanya sebagai perwujudan rasa bhakti umat kepada Tuhan, tetapi juga sebagai perwujudan interaksi komunikasi niat yang baik untuk tetap melestarikan ciptaan-Nya.

Jika setiap orang memiliki kesadaran spriritual yang mengidentikkan dirinya sebagai sarana CARU (Self offering) yang siap mengorbankan segala sifat-sifat kebinatangannya, maka kedamaian dunia tidaklah susah dicapai. Kedamaian dunia itu bermula dari kedamaian hati individu. selama orang-orang memelihara sifat-sifat kebinatangannya maka CARU penggunaan binatang itu hanyalah suatu formalitas belaka. Oleh sebab itu kita harus mengorbankan sifat-sifat binatang yang ada dalam diri kita sebelum mengorbankan binatang.

Kesungguhan seseorang dalam melaksanakan ritual dengan perasaan tulus iklas tanpa pamerih, sesungguhnya cara bhakti seperti itu telah menyumbang energi netralisasi terhadap energi-energi negatif.

Seperti kita ketahui bersama bahwa CATUR BRATA PENYEPIAN telah dirumuskan oleh PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu dengan penuh kesadaran dan menjadi metode yang efektif untuk meningkatkan kualitas fisik, mental dan spiritual.

Jika ajaran CATUR BRATA PENYEPIAN itu dilaksanakan secara sungguh-sungguh dengan penuh kesadaran, maka niscaya setiap orang akan tumbuh kesadaran kemanusiaannya yang tulus tanpa pamerih dan berevolusi secar alami.

Pada prinsipnya saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi.  Meredakan indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup semakin meningkat.

Bagi umat yang mempunyai kemampuan yang khusus, mereka dapat melakukan ; tapa yoga brata semadhi pada saat NYEPI itu dengan melaksanakan INTROSPEKSI DIRI SECARA MENDALAM atau MULAT  SARIRA. Karena NYEPI itu menyadarkan kesatuan, menyatukan jiwa-jiwa kita Atman dan Jiwa Semesta Brahman.

Yang terpenting adalah  NYEPI dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tinggi. Hal itu akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar. Setelah kita melakukan tapa brata yoga semadhi sebagai puncaknya kita menyatukan pikiran untuk menunggal dengan Tuhan dalam situasi nang, ning, nung, neng, nong. (tenang, hening, merenung, meneng (diam) dan kosong)_ Dalam _NYEPI NAN HENING_ bukanlah kosong ia penuh dengan kemurnian yang membawa kedamian dan kebahagiaan abadi tanpa batas. Dalam BHAGAVADGITA. 10.38 dijelaskan :

Akulah kekuatan hukum dari semua penghukum, Akulah negarawan diantara yang mengejar kejayaan, Diantara yang rahasia Akulah keheningan dan Akulah kebijaksanaan dari orang bijak.

Dengan demikian keesokan harinya dini hari sebaiknya lakukanlah persembahyangan dan berdoa seperti yang diajarkan dalam Bhagavadgita :

 “Berlindunglah engkau kepada Hyang Widhi dengan seluruh jiwa ragamu, dengan restu-Nya engkau akan mencapai kedamaian tertinggi yang kekal abadai,”  

Jika kedamaian tertinggi dan kekal abadi mampu kita wujudkan dalam kehidupan, maka inilah sesungguhnya esensi dari Dharma Shantih.

KESIMPULAN
1. Melalui ajaran CATUR BRATA PENYEPIAN dalam nuansa yang hening sepi, maka kita akan merasakan adanya perubahan nuansa kehidupan yang semakin damai. Dengan demikian kita akan mampu mengembalikan sifat-sifat yang asli dan luhur, sehingga mampu mewujudkan persahabatan, keluarga semesta.

2. Jika manusia selalu berbuat kedamaian, maka dunia ini akan damai sebab segala yang terjadi di dunia hanyalah refleksi dari perbuatan manusia itu sendiri.

3. Belajar introsfeksi diri, sehingga kita pokus dalam  melakukan hal yang baik untuk Mulat Sarira (kembali ke jati diri) melalui nang, ning, nung, neng, nong (tenang, hening, merenung, meneng (diam), dan kosong).

4. Manusia memiliki kemampuan untuk mendownload serta metralisir melalui pencapaian level kesadaran kosmis. Karena dengan  kesadaran kosmis hanya akan dicapai melaui “sadhana”, seperti CATUR BRATA PENYEPIAN.

Mengutip diskursus  Gede Prama tentang “Mengambil Waktu.” ;
~ Ambilah waktu untuk berpikir itu adalah sumber kekuatan.
~ Ambilah waktu untuk berdoa itu adalah sumber kebijaksanaan.
~ Ambilah waktu untuk berderma itu kunci menuju sorga.
~ Jika mau bahagia satu jam tidurlah.
~ Jika mau bahagia satu hari pergi mancing.
~ Jika mau bahagia satu bulan kawin lagi.
~ Jika mau bahagia satu tahun mintalah warisan.
~ Jika mau bahagia selamanya cintailah orang lain.

TAN ANA WONG ANULUS (tidak ada gading yang tak retak),  semoga bermanfaat, matur suksme.

Oleh : Wayan Kantun Mandara

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *