Vegetarian dan Ahimsa

Berikut ini lanjutan dari Pandangan Hindu terhadap Vegetarian dari uraian sebelumnya.

Hingsa-karma, perbuatan membunuh-bunuh, adalah adharma, bertentangan dengan agama. Tan sayogya prihen, dia tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang sedang mencoba melaksanakan ajaran-ajaran agama. Apalagi ia didapatkan dengan berbagai kesulitan dan memberikan penderitaan besar kepada binatang bersangkutan (atikasta)[8]. Lebih jauh, ajaran karma-phala juga dijabarkan dengan cukup tegas dan keras:

Dia yang suka menangkap ikan, dalam penjelmaannya yang akan datang pasti menjadi ikan. Mereka yang mengembangkan sifat-sifat seperti harimau pasti bisa menjelma menjadi harimau pula.[9] Bagaimanapun cara yang ditempuh untuk menjelaskan ajaran Ahimsa, namun di dalam cara-cara yang pada berbeda tersebut ada kesamaan yang perlu dicatat yaitu sama-sama menjelaskan Ahimsa sebagai kegiatan yang bebas dari kekerasan, dan sama-sama menerimanya sebagai salah satu cara  pelaksanaan ajaran agama Hindu yang tertinggi/tersuci, kalau tidak bisa disebutkan sebagai yang tertinggi atau tersuci.

Diantara pendapat-pendapat tersebut ada dua kelompok pendapat yang agak menonjol. Yang satu menafsirkan bahwa Ahimsa berarti tidak melakukan kekerasan dalam bentuk tidak membunuh-bunuh makhluk hidup apa pun, termasuk pula tidak memakan dagingnya. Yang satu lagi menafsirkan bahwa Ahimsa dimaksudkan sebagai tidak melakukan kekerasan dalam bentuk tidak menyakiti hati orang lain.

Pendapat-pendapat ini akhirnya mempengaruhi orang untuk mengamalkan ajaran Ahimsa dengan cara setengah-setengah dan agak “eksentrik”. Ada yang mengamalkan Ahimsa dengan cara berhati-hati dalam berkata-kata dan bertingkah laku agar tidak menyinggung atau tidak menyakiti hati orang lain, sambil tetap makan daging, dan bila diperlukan, ia juga siap menggorok atau memotong binatang. Mereka berpendapat inilah maksud yang sebenarnya dari Ahimsa.

Sedangkan ada pula yang melaksanakan ajaran Ahimsa dengan cara sama sekali tidak berani membunuh-bunuh makhluk lain, sangat ketat menjaga pantangan dalam makan memakan, bahkan sampai telorpun mereka tidak mau menyentuhnya. Tetapi, ia tidak segan-segan memukul atau menyakiti binatang-binatang, bahkan manusia sekalipun. Mereka tidak mengontrol diri dalam berkata-kata dan bertingkah laku.

Apakah kata-kata dan tingkah lakunya menyakiti hati orang lain ataukah tidak, mereka tidak perduli sama sekali. Bahkan kita dapat melihat di masyarakat banyak orang yang merasa berbahagia bila dapat menyakiti hati orang lain dengan kata-katanya yang tajam menusuk, sambil tetap mengatakan dirinya sebagai orang yang sedang mengamalkan ajaran suci Ahimsa.

Kedua cara tersebut di atas, dapat dikatakan sebagai cara pelaksanaan ajaran Ahimsa dengan cara tidak sempurna atau setengah-setengah. Mereka yang tidak membunuh-bunuh dan tidak memakan daging binatang tetapi merasa tidak apa-apa jika menyakiti hati orang lain, — masih melaksanakan ajaran Ahimsa secara tidak lengkap.

Yang lain, berpantang menyakiti hati orang lain tetapi tetap memakan daging, — ini juga bukanlah pelaksanaan ajaran Ahimsa secara lengkap. Pelaksanaan Ahimsa secara sempurna adalah gabungan dari keduanya, yaitu tidak makan daging, ikan dan telor, dan di saat yang sama juga hendaknya berusaha untuk tidak menyakiti makhluk lain, baik dengan pikiran, kata-kata, maupun dengan perbuatan, apalagi sampai membunuh-bunuh. Pelaksanaan ajaran Ahimsa secara lengkap beginilah yang disebutkan sebagai Ahimsa paramo dharmah, atau  pelaksanaan ajaran agama tertinggi.

Permainan drama, bagaimanapun baiknya jika ia hanya setengah-setengah, tidak akan mampu memuaskan siapapun. Pelaksanaan ajaran Ahimsa yang setengah-setengah, kurang lebih adalah sebuah pertunjukan “drama” tidak lengkap. Oleh karena itu, pelaksanaan tidak lengkap tersebut sama sekali tidak akan mampu memberikan pahala maksimal berupa kedamaian dan kebahagiaan sejati kepada pelaksananya.

Pelaksanaan Ahimsa hendaknya dilaksanakan secara lengkap dan “alami”. Kapan orang melaksanakan ajaran Ahimsa secara wajar dan “nyarira” atau “alami”, di saat itulah mereka akan merasakan keindahan Ahimsa dan vegetarian. Dan, di saat itulah orang akan menemukan dirinya sebagai seorang Hindu ideal, yang mestinya telah terjadi jauh-jauh sebelumnya. Di saat itu pula mereka tidak akan melihat orang melakukan vegetarian sebagai sesuatu yang istimewa, sebab memang, semuanya adalah wajar-wajar saja.

Dalam keadaan seperti itu, anjuran-anjuran, perintah-perintah dan larangan-larangan kitab-kitab suci serta lontar-lontar yang kadang-kadang kelihatan cukup keras tidak akan dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan lagi. Anak-anak yang secara sadar telah tidak suka memelihara kuku panjang, tidak akan takut-takut lagi terhadap anjuran, perintah dan larangan guru-gurunya.

“Ahimsa ngaranya tan pamati-mati sarva-prani, nguniweh janma manusa, maweh wuwus tan ayukti, mahala kira-kiranya ring len”,[10] — ditegaskan di dalam lontar leluhur bahwa “tan pamati-mati” atau tidak membunuh-bunuh dimaksudkan tidak membunuh-bunuh segala makhluk hidup (sarva-prani). Berdasarkan bukti lontar ini, lengkaplah kesamaan dan kesejalanan ajaran leluhur kita (khususnya tentang Ahimsa) dengan ajaran suci Veda. Dengan demikian, alasan untuk ragu-ragu sudah tidak ada lagi.

Biasanya, dalam tradisi penyampaian ajaran suci Veda kita dapat mengenal arti, makna, maksud dan tujuan sesuatu lewat kata atau istilah yang dipakai, seperti misalnya seorang anak disebut sebagai Putra, seorang suami disebut Svami, orang suci yang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sannyasi, Svami, Gosvami, dan lain-lain, seperti itu pula kita dapat mengetahui arti, makna, maksud dan tujuan dari kata Mamsa (daging).

Kata Mamsa berasal dari mam dan sah. Mam berarti aku, dan sah berarti dia. Mamsa berarti dia yang dagingnya aku makan sekarang akan memakan aku dalam hidup yang akan datang (mam sah khadati iti mamsah).

Kitab Manu Smrti dan Mahabharata juga memberikan penjelasan yang sama terhadap kata mamsa yang berarti daging. Hal ini menunjukkan agama Hindu memandang “serius” masalah Ahimsa dan vegetarian.

Manu Smrti menyebutkan bahwa “Mamsah yang berarti daging, pada hakekatnya dinyatakan oleh orang-orang bijaksana berarti ‘saya dia’ yaitu dia yang dagingnya saya telan dalam hidup ini, menelan saya di kemudian hari.”[11] Hal yang sama juga diakui di dalam kitab Mahabharata:

“Sekarang dia menelan saya, nanti saya pun akan memakannya,” — mam sa bhaksayate yasmad bhaksayisye tamapyaham.[12] Ajaran Mam Sah ini di beberapa kitab dijabarkan lagi lewat berbagai cerita. Salah satu di antaranya adalah cerita Maharaja Puranjana yang selama hidupnya banyak membunuh-bunuh binatang. Di naraka ia ditunggu oleh semua binatang yang ia pernah bunuh, dan semua menyerang, menggigit dan menyiksanya dengan ganas.

______________________
Referensi:
[8]lontar kekawin Astikasraya: hingsa-karma adharma donta ati-kasta tan sayogya prihen.
[9]lihat lontar Arjuna Vivaha.
[10]Lihat lontar Panca Sikñä.
[11]Mamsa bhaksayitamutra yasya mamsam ihadmyaham etan mamsasya mamsatvam pravadanti manisinah.
[12]nasihat Resi Bhisma kepada Maharaja Yudhisthira dalam Mahabharata.
[13]Tribhir guna-mayair bhävair ebhih sarvam idam jagat mohitam nabhijananti mam ebhyah param avyayam (Srimad Bhagavad-gita 7.13).

Sumber: HDNet

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *