Sloka Pelarangan Membunuh Binatang

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa pembunuhan binatang dilarang dalam weda. Berikut ini lanjutannya.

Sebab itulah kitab-kitab Weda pada akhirnya memang melarang adanya pembunuhan binatang, meski pada awalnya seolah terdapat cukup “peluang” untuk melakukan pembunuhan guna tujuan yajna. Namun tetap ada kalangan yang berpikiran bahwa kitab suci Manawa Dharmasastra (Weda Smrti), yaitu kompedium Hukum Hindu sepenuhnya membenarkan dilakukan pembunuhan kepada binatang atas dasar yajna, kemudian dagingnya dapat disantap.

Mereka mengacu pada ayat-ayat Artha Pancamo Hyayah (Buku Kelima) pada ayat : 16,18,22,31,dan 32. Sepintas memang nampak bahwa ayat-ayat tersebut membenarkan manusia makan daging dan ikan meski dengan persyaratan tertentu yang nampaknya di jaman ini sangat sulit untuk diikuti.

Misalnya mencari seorang Brahmana yang mempunyai kualifikasi setara Rsi Agastya, yang sungguh mampu mengangkat kehidupan binatang menjadi lebih baik dari kehidupannya sebelumnya. Daging diperkenankan dimakan jika telah diperciki air suci oleh Brahmana yang kualifide, dan hal ini hanya diijinkan dan berlangsung pada saat diselenggarakannya upacara kurban untuk para dewa atau leluhur. Aturan ini disusun oleh Vaivasvata Manu yaitu untuk keperluan upacara kurban suci Dewa Yajna dan Pitra Yajna. Di sini tidak disebutkan secara tegas yajna yang bagaimana ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian dalam kitab yang sama dalam ayat selanjutnya ditegaskan sebagai berikut :

(48). Nakritwa praninam himsam
mamsamtpadyate kawacit,
na ca prabiwadhah swargyas
tasman mamsam wiwarjayet

“Daging tidak akan bisa didapat tanpa menyakiti mahkluk hidup, dan penganiayaan terhadap makhluk hidup adalah suatu pantangan dalam mencapai kebahagiaan suci, oleh karena itu hendaknya seseorang menghindari memakan daging”

(49). Samutpattim ca mamsasya
wadhabandhau ca
dehanamprasamiksya
niwarteta sarwa mamsya bhaksanst

“Setelah mempertimbangkan masak-masak soal asal-usul yang menjijikan dari daging dan kekejaman dalam menyiksa dan membunuh makhluk hidup, hendaknya tinggalkanlah sama sekali kebiasaan makan daging”

(51). Anumanta wisasita nihanta
krayawikrayi
samskarta copaharta ca
khadaksceti ghatakah

“Ia yang mengijinkan penyembelihan seekor binatang, ia yang memotongnya, ia yang membunuhnya, ia yang membeli dan menjualnya, ia yang memasaknya, ia yang menyuguhkan, dan ia yang memakannya semua itu patut dianggap sebagai pembunuh”

(52). Swamamsam paramamsena
yo wardhayitumichati
anarbhyacya pitrindewams
tato ayo nastya punyakrit

“Tidak ada orang yang lebih berdosa daripada orang yang walaupun menghaturkan sesajen kepada para dewa dan leluhur, namun berusaha memperbanyak kumpulan daging di badannya dengan daging dari binatang lain”

Jika semua sloka di atas dibaca secara utuh dan proporsional, maka bagi mereka yang berpandangan ke depan, landasan pembunuhan binatang tidaklah cukup kuat dan meyakinkan meskipun untuk tujuan yajna sekalipun. Mamsah yang berarti daging, pada hakekatnya dinyatakan oleh orang-orang bijaksana sebagai saya-dia, yaitu dia yang dalam hidup ini dagingnya saya telan, akan membalas untuk menelan saya dikemudian hari (Manu Smrti 5.55). Memakan daging secara tidak langsung terlibat di dalam rangkaian pembunuhan makhluk hidup. Penyembelihan binatang melibatkan banyak orang dalam rantai terencana menghasilkan reaksi karma yang tidak pernah direncanakan dan dibayangkan sebelumnya.

Persembahan yang ditujukkan kepada Tuhan Kitab Bhagawad Gita, Percakapan 9 Sloka 26 patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayacchati tad aham bhakty upahrtam asnami prayatatmanah

“Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah dan air dengan cinta bhakti, Aku akan menerimanya”

Penjelasan :
Orang cerdas mengerti bahwa ia harus sadar akan Tuhan yaitu tekun dalam cinta bhakti rohani kepada Tuhan, supaya ia dapat mencapai tempat tinggal yang kekal dan penuh kebahagiaan dan berbahagia selamanya. Proses mencapai hasil yang sangat bagus seperti itu mudah sekali, dan orang yang paling miskin sekalipun dapat berusaha untuk mencapai hasil itu, tanpa diperlukan kualifikasi apa pun. Satu-satunya kualifikasi yang diperlukan sehubungan dengan hal ini ialah bahwa seseorang harus menjadi penyembah yang murni.

Sifat-sifat maupun kedudukan seseorang tidak menjadi soal. Proses bhakti ini sangat mudah sehingga daun, bunga, buah atau air dapat dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cinta bhakti yang tulus ikhlas dan Tuhan akan berkenan menerima persembahan itu. Kalau seseorang ingin menekuni bhakti kepada Yang Maha Kuasa, agar dirinya disucikan dan mencapai tujuan hidup sejati yakni cinta bhakti rohani kepada Tuhan, maka hendaknya ia mencari apa yang diinginkan Tuhan darinya. Orang yang mencintai Tuhan akan memberikan apa pun yang diinginkan Tuhan dan menghindari persembahan yang tidak diinginkan atau diminta.

Karena itu daging, ikan dan telur tidak boleh dipersembahkan kepada Tuhan. Kalau Tuhan menginginkan benda-benda seperti itu sebagai persembahan, tentu saja Tuhan akan mengatakan demikian. Melainkan, Tuhan meminta dengan jelas supaya daun, bunga, buah dan air dipersembahkan kepada-Nya. Mengenai persembahan ini Sri Krsna bersabda “Aku akan menerimanya”. Karena itu hendaknya kita mengerti bahwa Tuhan tidak akan menerima daging, ikan dan telur. Sayur-sayuran, biji-bijian, buah-buahan dan air adalah makanan yang layak untuk manusia dan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sendiri menganjurkan makanan seperti itu.

Sumber : Kitab Manawa Dharmasastra
Kitab Bhagawad Gita menurut aslinya, oleh A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada
Majalah Mahayajna seri kelima tahun kedua

Share this post

One thought on “Sloka Pelarangan Membunuh Binatang

  1. Pingback: Hindu Dharma | Penyembelihan Binatang Diperbolehkan untuk Tujuan Upacara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *