Watugunung Melawan Sang Hyang Wisnu

Sebelumnya telah diceritakan Sang Watugunung telah menaklukkan banyak kerajaan sampai kemudian istrinya ngidam mempunyai seorang pembantu yang tidak lain adalah permaisuri Sang Hyang Wisnu. Berikut dilanjutkan lagi.

Ya kalau demikian kanda bersedia untuk  mencarinya”.  Sang Watugunung mulai memusatkan pikirannya (angrana sika)  dengan mantap, sehingga dengan kekuatan batinnya tanah (bumi) ini pecah  sampai pada lapis yang ketujuh. Sang Watugunung turun ke lapis tanah  yang ketujuh sampai di sana disambut oleh Aribuana: Ah-ahih-ih apa  maksud kedatanganmu?” mohon dijelaskan. Sang Watugunung menjawab: “Aum  Batara, adapun kedatanganku kemari, sebab berita yang kudengar di dunia,  bahwa Batara adalah yang amat pengasih, apa saja yang diminta oleh  manusia Batara izinkan”. Apa yang kau sebutkan itu memang benar” jawab  Sang Hyang Wisnu.

Kalau memang benar hal tersebut sekarang permintaanku  adalah, jika engkau memang mencintai diriku, saya mohon permaisuri  Hyang Wisnu bagaimana engkau izinkan bukan, katakanlah segera” Sang  Hyang Wisnu segera menjawab”  “Oh permintaanmu bukan perilaku manusia,  permintaanmu tidak benar, tidak boleh meminta istriku cobalah minta yang  lainnya, tentu aku akan penuhi, kehebatan, senjata dan lain-lainnya”.   “Jika demikian halnya Dewa Wisnu berbohong tidak menepati (tidak setia)  kepada ucapan namanya, oh janganlah mengaku pada sadhu dharma (beriman  dan saleh), kamu berikan atau tidak, kalau kamu berikan istrimu engkau  selamat, kalau tidak engkau izinkan berbahayalah engkau”. Sang  Watugunung sangat marah.  “Aum, seperti apa yang kamu katakan, kalau aku  tidak izinkan, bagaimana kehendakmu cobalah bilang”.   “Kalau Batara  tidak izinkan, marilah segera kita berperang. Apakah kamu berani?  katakan” Bertambah-tambah marahlah sang Watugunung, kata-katanya kasar.

Demikian pula Hyang Wisnu (sangat marah)  segera menjawab: kalau benar seperti apa yang kamu katakan, aku  betul-betul tidak memenuhi permintaan, karena apa yang kamu katakan hal  itu tidak benar (tidak wajar)”.   Ketika itu sang Watugunung sangat  marah, demikian pula Sang Hyang Ari, maka terjadilah pertempuran yang  amat dasyat saling kejar mengejar, tusuk menusuk, pukul memukul dengan  garangnya.

Tujuh puluh yuga lamanya Sang Hyang Wisnu berperang melawan  sang Watugunung, seribu kepalanya, dua ribu tangannya, dua ribu kakinya,  matanya seperti bintang, amat menakutkan, rupanya seperti api  berkobar-kobar menyala. Sang Hyang Wisnu juga memurti (membesar  wujutnya) beliau berupa kurma, berlidah cakra, bertaring tajam (suligi),  atau (berbelai) bajra yang amat utama, amat dasyat wujut kura-kura itu,  besar badannya. Karena sang Watugunung tidak dapat dikalahkan oleh  dewa, tidak terkalahkan oleh manusia, tak dikalahkan oleh bhuta, pisaca,  tidak mati dibawah dan di atas, tidak mati oleh raksasa dan detya yaksa  sura.

Setelah Sang Hyang Wisnu berwujud  Badwang (Kurma), yang amat menakutkan, barulah beliau berperang.  Bagaikan gelombang laut yang murka, bergetarlah dunia ini, sehingga  menyebabkan para dewa sibuk bertanya. Sang Hyang Siwa pun berkata kepada  para dewa: ”Hai anakku semua, apakah kiranya yang terjadi sehingga  terjadi getaran-getaran yang hebat”. Coba katakan!

Bhagawan Narada  menjawab: ”Seperti apa yang batara katakan, hal itu terjadi karena ada  manusia yang congkak berbuat yang tidak wajar, tidak lain manusia itu  adalah si Watugunung, minta permaisuri dari Sang Hyang Wisnu, itulah  yang menyebabkan terjadinya pertempuran, karena perbuatan si Watugunung  amat berdosa.  Mendengar laporan Hyang Narada demikian, lalu sang  Watugunung dikutuk oleh Batara Sangkara. ”Jah tah smat, semoga si  Watugunung mati, karena perilakunya yang amat berdosa mau memperistri  dari salah seorang dewa, terus-menerus sampai pada penjelmaan kelak  kemudian hari terbunuh oleh kebesaran Hyang Ari” demikianlah kutuk Sang  Hyang Sangkara.

(bersambung)

Share this post

One thought on “Watugunung Melawan Sang Hyang Wisnu

  1. Pingback: Hindu Dharma | Watugunung Membocorkan Rahasia Kesaktian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *