Bangun Benteng Diri Melalui Pagerwesi

Pada hari Buda Kliwon Sinta  umat Hindu di Bali merayakan hari Pagerwesi. Hari ini adalah hari terakhir dari rangkaian 10 hari perayaan Saraswati yang dimulai pada Senin, Umanis Watugunung yang juga disebut hari candung Watang. Setelah melalui babakan perayaan tertentu untuk masing-masing hari, akhirnya tibalah pada perayaan Pagerwesi, setelah sebelumnya pada wuku Sinta ini berlangsung perayaan Banyu Pinaruh pada Minggu, Paing, Sinta, kemudian perayaan Soma Ribek pada Senin, Pon Sinta, dan Sabuh Mas pada Selasa, Wage, Sinta.

Jika ditelaah dengan seksama, maka 10 hari ini yang berakhir pada Pagerwesi merupakan rangkaian sadhana spiritual khas Bali. Masing-masing hari dari 10 hari tersebut memuat aturan-aturan tertentu yang mesti dilakukan oleh setiap umat supaya kemudian mencapai apa yang disebut dengan Pageh-teguh-kokoh-yakin- Pagerwesi. Dan sikap pageh ini pasti bisa dicapai bila telah mencapai pencerahan (Saraswati).

Dalam naskah Sundarigama disebutkan sebagai berikut: Pada hari Buda Kliwon Sinta disebut Pagerwesi, saat mana Sang Hyang Pramesti Guru (Siwa) yang diikuti oleh Dewata Nawa Sanga yang bertujuan menyelamatkan jiwa segala mahluk hidup yang ditakdirkannya di alam ini. Karena itu patutlah para sulinggih memuja ciptaan Bhatara Parameswara.

Dalam Vana Parva dinyatakan ada lima macam Guru yang patut disembah. Misalnya, Atman (guru pengajar), Mata Pita (ibu dan ayah). Agni sebagai Guru adalah Tuhan itu sendiri seperti Sang Hyang Pramesti Guru yang dipuja saat hari Pagerwesi. Guru inilah yang mengajarkan ilmu pengetahuan duniawi dan rohani. Kepada mereka juga wajib umat berbakti.

Dalam tradisi Hindu di Bali, Atman sebagai Guru di stanakan di Palinggih Bhatara Hyang Guru di Kamulan. Di palinggih ini distanakan Sang Hyang Atma yang telah mencapai Dewa Pitara sebagai Bhatara Hyang Guru. Dalam lontar Gong Wesi dan sumber-sumber lainnya palinggih Kamulan sebagai linggih Sang Hyang Atma dalam fungsinya sebagai Batara Hyang Guru. Atman ini juga Brahman yang menjadi sumber dan saksi kehidupan di bhuwana alit.

Dalam kutipan Sloka Manawa Dharmasastra ada dijelaskan bahwa dalam kehidupan kita di dunia ini, disamping memuja Tuhan hendaknya jangan pernah lupa berbakti kepada ayah dan ibu sampai pada leluhur sebagai Batara Hyang Guru. Kitab suci telah menjanjikan bahwa berbakti kepada ibu dan ayah akan berpahala kebahagiaan di Bhur dan Bhuwah Loka.

Apalagi berbakti pada guru spiritual, kita akan dapat mencapai Swah Loka atau alam keTuhanan. Berbakti kepada Guru, bisa dilakukan saat hari raya Pagerwesi bagi umat Hindu di Bali, dan “Guru Purnima” bagi umat Hindu yang ada di India. Hari raya itu hanya sebagai peringatan saja. Maksudnya adalah agar umat selalu mengamalkan setiap saat apa yang diajarkan oleh lima Guru tersebut. Barang siapa yang mampu dan selalu hidup dengan berpegang pada apa yang digariskan oleh lima Guru tersebut ia pun hidupnya seperti berpagar besi. Ini artinya ia akan terlindung dari perbuatan yang “Asubha Karma”.

Berbakti kepada Guru itu tidak semata-mata dalam arti ritual dan menampilkan sikap etika semata kepada Guru. Lebih dari itu dalam hidup kita ini selalu dijalani dengan berpegang pada apa yang diajarkan Guru. Dengan ilmu yang diajarkan guru kita memagari diri dari pengaruh buruk.
Ilmu yang didapatkan dari lima Guru tersebut hendaknya diserap untuk didayagunakan dan meningkatkan kualitas hidup lahir batin.

Pagerwesi nyatanya merupakan perayaan pada wuku Sinta, wuku pertama dari 30 wuku yang ada. Dari sini timbul pertanyaan, mengapa Pagerwesi dirayakan di awal sistem pawukon? Pertanyaan ini kembali akan mengingatkan kita akan maksud disusunnya Pawukon tersebut. Sistem babakan waktu ini disusun demikian rupa oleh leluhur kita sebagai upaya melatih diri secara tertib untuk mencapai kesempurnaan budi, kemerlangan spiritual, fajar bathin, terang rohani. Dan perjalanan rohani adalah perjalanan melintasi kehidupan ini, melakoni kehidupan dunia yang tiada lain adalah maya. Sehingga dunia ini disebut mayapada, alam ilusi. Setiap sisya haruslah menyadari, bahwa di alam seperti itulah ia berada dan ia harus melewati (hidup) di alam seperti itu untuk kemudian melewatinya dan mencapai moksa. Moksa artinya terbebas dari maya, sifat ilusif.

Maya identik dengan sifat semu, menipu, fatamorgana. Dan Panca Indra sangat gampah tertangkap oleh fenomena semu seperti itu, sementara untuk bebas dari pengaruh maya, orang harus mampu mengatasi maya itu. Artinya seorang sisya harus mampu mengatasi maya itu, dan inilah membutuhkan sikap yang pageh, teguh tak tergoyahkan.

Nah, Pagerwesi itu disini fungsinya dalam menguatkan kepagehan, membentengi diri dari maya. Dengan apa benteng itu dibangun? Ya, menegakkan prinsip dharma, salah satunya Tri Kaya Parisudha, tattwam asi, dan sebagainya.
Bila di awal babakan waktu, di awal proses (wuku Sinta) kita sudah pageh, maka niscaya kehidupan maya ini akan bisa kita lewati dengan selamat. Inilah makna esoteris, jnana yoga, perang melawan maya (Maya Danawa) dengan persiapan matang melalui perayaan Pagerwesi.

Sumber: www.dstudiobali.com

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *