Membangun Candi Jiwa yang Kokoh

Oleh: Mangku Suro

Seberapa kuat seharusnya kita agar bisa menemukan Kebenaran Sejati. Kita harus sangat kuat. Bagaimana kita menjadi kuat? Dengan latihan. Kita harus melatih jiwa kita dengan mematuhi aturan-aturan sadhana yang ada di dalam Weda atau yang diberikan oleh guru sadhana yang kita yakini telah mencapai pencerahan batin. Pada awalnya, semua aturan sadhana yang diberikan akan terasa sangat sulit. Jiwa yang lemah sangat sulit membuatnya menjadi kuat, tetapi jika kita melatihnya sepanjang waktu dan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, akan nampak hasilnya. Jiwa kita akan merespon juga. Tetapi kita harus melaksanakan sadhana itu.

Kita harus berusaha. Kita harus berusaha dengan sangat keras, melatih jiwa kita yang lemah agar tumbuh menjadi kuat. Kita harus melatihnya dengan rajin. Tahapan paling awal dari astangga yoga adalah yama brata, sepuluh banyaknya, yaitu: anrsangsya (tidak egois), ksama (sabar), satya (jujur), ahimsa (tanpa kekerasan), dama (introspeksi diri), arjawa (tulus), priti (welas asih), prasada (tenang), madhurya (sopan santun), dan mardawa (kelembutan hati). Inilah pondasinya, dasar dari tahap berikutnya. Seberapa sering kita harus melakukan latihan paling awal ini? Sepuluh menit sehari? Tidak. Dua jam sehari? Tidak.

Kita harus melakukannya dua puluh empat jam sehari! Tiap hari! Ya, dua puluh empat jam sehari, tiap hari, kita harus berusaha sangat keras menahan ego kita, tetap sabar, jujur, menghindari kekerasan, selalu introspeksi diri, mengakui kesalahan diri sendiri, menasehati diri sendiri jika menemukan kesalahan, melakukan segalanya dengan tulus, penuh welas asih, menghadapi segala sesuatunya dengan tenang, sopan santun dalam pergaulan atas dasar kelembutan hati.

Mempersiapkan diri kita untuk kesadaran Atman seperti menyelaraskan atau menyetem gitar, mengencangkan setiap tali gitar perlahan namun pasti menyelaraskan satu tali dengan tali yang lain. Semakin peka kita kepada bunyi nada semakin baik kita dapat menyelaraskan nada gitar, semakin baik gitar disetel semakin baik musik yang dihasilkan. Semakin kuat jiwa kita di alam maya ini semakin dapat membawa kita masuk menikmati alam sejati kita, semakin kita dapat menikmati kebahagiaan sempurna dari keberadaan sejati kita. Itu sangat bernilai untuk dilakukan. Itu sungguh mulia untuk diharapkan. Kita harus mengekang keduniawian kita. Ini berarti kita harus bekerja keras dengan pikiran kita, membawa pikiran kita di bawah perintah niat suci kita.

Mereka yang telah berpengalaman dalam perenungan suci memahami kedalaman dari ucapan orang-orang suci. Mereka telah mencicipi Diri Sejatinya. Mereka telah mencicipi sesuatu yang tiada taranya, tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang pernah berhubungan dengannya selama ini. Itu telah memenuhi, menggetarkan dan meresap ke seluruh bagian dari dirinya, meskipun keadaan itu dialaminya tidak lebih dari satu menit.

Namun demikian mereka telah memperoleh pengetahuan yang hebat, yang sangat mulia, sebuah pengetahuan yang bisa mereka tinjau kembali, sebuah pengetahuan yang akan memuat buah kebijaksanaan jika menghubungkan pengalaman hidup masa depan pada pengetahuan mulia itu, jauh lebih mulia dari pengetahuan yang diperoleh di sekolah atau perguruan tinggi. Apakah mereka hanya mendapatkan konsep yang jelas dari kesadaran Atman yang mereka rasakan meresap ke seluruh bagian dari dirinya dan semua wujud dalam perenungannya yang dalam? Masih ada tahapan berikutnya.

Dengan bercermin kepada orang-orang yang kita yakini telah mencapai pencerahan batin, kita menumbuhkan semangat untuk berjuang dengan pikiran kita, berusaha memusatkan pikiran, berusaha bermeditasi, berusaha diam, berusaha santai, selalu mencoba dan berusaha. Setiap usaha dharma yang kita lakukan itu tidak akan pernah sia-sia. Membangun candi jiwa yang kokoh bagaikan membangun sebuah candi padmasana, setiap sebuah batu(bata) ditambahkan pada candi yang sedang dibangun akan membuat candi itu semakin dekat pada kesempurnaannya.

Kita harus dengan sabar dan cermat menambah batubata satu per satu demi terwujudnya candi tersebut, terus berusaha tanpa kenal lelah. Demikian pula halnya di dalam membangun candi jiwa yang kokoh, kita harus berusaha dengan sabar dan cermat, terus mencoba dan berusaha, dan yakin pada suatu ketika kita akan menembus lapisan bawah pikiran kita dan memasuki perenungan yang sangat dalam, sehingga kita benar-benar tahu kebenaran jalan spiritual yang ditunjukkan Weda, tidak lagi sekedar meyakininya tanpa pengalaman pribadi. Kita bisa memulainya kapan dan di mana saja.

Atman, kita tidak bisa menjelaskannya, kata leluhur kita, “haywa wera” atau “aja wera”, karena ini memang tidak bisa dibicarakan. Seorang spiritualis Jawa pernah berpesan,
“Lek diomongne mesthi kleru, nanging ora ateges kleru lek diomongne.”
Artinya, “Jika dibicarakan mesti keliru, tetapi tidak keliru jika dibicarakan.”
Apa maksudnya?
Maksudnya, jika kita berusaha menjelaskan keberadaan Atman mesti keliru, kata-kata tidak akan bisa mewakili keberadaan-Nya secara tepat, tidak mungkin kata-kata yang demikian terbatas bisa menjelaskan sesuatu yang tanpa batas.

Namun demikian, membicarakan hal ini bukanlah sesuatu yang keliru. “Anggayuh Guru Sejati, ya Sukma Jati, ya Kahanan Jati, apindha anggoleki susuhing angin, galihing kangkung, tapaking kuntul anglayang, suwung, suwung sejatine ana, ya ananing Kahanan Jati kang sawiji.” Pikiran keduniawian kita tidak akan bisa memahami secara tepat ucapan-ucapan spiritual seperti itu, tapi itu cukup menggugah kita sebagai pecinta kehidupan rohani untuk menghayatinya, berusaha untuk merenungkannya, jika kita mau mempedulikan dan memilih salah satu jalan untuk memasuki perenungan yang mendalam: merasakan pikiran, badan dan perasaan, menapaki jejak-jejak spiritual nenek moyang kita yang telah menyadari bahwa Jiwatman meresap di dalam segala hal, di dalam pikiran, di dalam semua wujud; badan, yang kita diami, dan di dalam perasaan, yang kita kendalikan sekaligus dikendalikan olehnya.

Pikirkanlah itu, renungkanlah itu, dan kita akan menemukan bahwa kita adalah cahaya di dalam mata kita. Kita adalah rasa yang ada di dalam jemari kita. Kita lebih gemilang daripada kemilau cahaya matahari, lebih murni daripada salju, lebih halus daripada ether. Rahasia besar ini telah diketahui oleh para rishi Weda dan orang-orang yang dengan tekun menapaki jejak-jejak spiritualnya. “Temen tinemu”, jika bersungguh-sungguh pasti akan ketemu, tetap mencoba, tetaplah berlatih, tetaplah berusaha. Setiap kali kita mencoba, setiap kali kita berlatih, setiap kali kita berusaha melakukan sadhana, itu berarti kita menjadi selangkah lebih dekat dari Keberadaan Sejati kita.

Sumber: www.facebook.com

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>