Pengasingan Diri Secara Spiritual

Bagikan

Oleh: Mangku Suro

Mendengar kata “pengasingan” sudah cukup membuat pikiran kita menjadi tersiksa. Kenapa ini terasa begitu sulit dilakukan? Bisakah kita hanya merenungkan hal-hal spiritual, senang berusaha meresapi Brahman selama berjam-jam, sepanjang hari?

Tetapi, jika rasa senang dalam merenungkan hal-hal spiritual itu datang, kita akan menjadi terlepas dari banyak beban keduniawian sampai jumlah tertentu dan mulai menimbulkan proses internal alami melalui dan ke dalam pikiran eksternal kita. Pikiran eksternal dipenuhi daya pikiran yang dibentuk oleh pengetahuan dan pendapat orang lain.

Pengetahuan pinjaman ini membungkus jiwa kita, karena kebanyakan dari kita masih menggunakan kecerdasan seperti anak-anak yang sering tidak melalui filter yang memadai. Oleh karena itu, masa pelepasan dan pengasingan diri secara spiritual yang teratur atau pemisahan dari dunia eksternal itu perlu.

Pada suatu perayaan hari-hari besar keagamaan kita berusaha melihat Brahman di sekeliling kita, berusaha merasakan-Nya di dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi. Selama pemujaan di Pura, kita berusaha untuk merasakan-Nya, untuk mengalami pengalaman spiritual jauh lebih banyak daripada selama kita melakukan aktivitas normal.

Akhirnya, sebagai usaha untuk kemajuan spiritual kita, kita memberi perhatian yang lebih pula, kemudian memberikan penilaian pada pengalaman-pengalaman setiap hari yang kita alami, apakah kelihatannya baik atau buruk, apakah menyenangkan atau menyakitkan. Ini adalah pengalaman jiwa cukup dewasa yang melakukan jenis sadhana ini secara teratur setelah mengambil komitmen tertentu, cukup kuat memisahkan daya pikiran dari pandangan yang menyatakan dunia eksternal sebagai realitas absolut.

Pada saat kita melakukan pemujaan di Pura, kita mengharapkan Brahman walaupun sekilas memandang diri kita dan apa saja yang kita persembahkan, perilaku yang cukup dihormati oleh orang-orang yang kita sucikan. Jika kita terus mengembangkan bhakti kita, pandangan Brahman yang sekilas tadi pun akan terus tumbuh.

Brahman ada di dalam dan di luar diri kita, kenapa kita tidak memuja-Nya yang ada di luar diri kita saja, apakah kita harus memuja Brahman baik yang di dalam maupun yang di luar diri kita. Ya, menurut filsafat Weda, itulah yang ideal, tetapi dari yang dua tadi secara alami bergantung pada sifat alami penganutnya.

Ada yang lebih semangat memusatkan perhatian dan pikirannya meditasi pada Brahman dalam dhyana yoga mereka, dan ada yang lebih semangat memusatkan perhatian dan pikirannya yang cenderung pada pelaksanaan pemujaan di Pura yang disertai dengan berbagai jenis persembahan: sesaji, musik, kidung, tari, ornamen, atau layanan selama pemujaan yang dilaksanakan dengan penuh kegembiraan. Kebanyakan yang dibangun umat adalah melakukan keduanya secara seimbang antara kegembiraan dan ketenangan.

Brahman ada di dalam semua jiwa. Dia ada di sana sebagai Realitas yang tak berwujud, yang kita sebut Atman. Dia ada di sana sebagai cahaya murni dan kesadaran yang meresap di setiap atom dari alam semesta, yang kita sebut Satchidananda. Kita juga tahu bahwa Dia adalah Sang Pencipta dari semua yang ada, dan Dia ada di semua ciptaan-Nya.

Jadi, secara intelektual kita yakin bahwa Brahman ada di dalam dan di luar semua ciptaan-Nya, ada di dalam dan di luar alam semesta. Dari keyakinan tersebut, kita melakukan perenungan mendalam yang panjang, yang pada akhirnya menuntun kita pada Kesadaran Sejati, Kesadaran Brahman.

Sifat alami umat dalam memuja Brahman dikembangkan melalui sadhana dan tapa, dilakukan dalam hidup sekarang ini atau dalam hidup sebelumnya. Kita harus memuja Brahman secara eksternal, merenung memikirkan Brahman yang tak terpikirkan, mewujudkan Brahman yang tak berwujud, melayani Brahman yang tak butuh pelayanan, sampai kita terdorong untuk duduk, menenangkan diri, masuk ke dalam jiwa kita, berhenti berbicara, berhenti berpikir dan untuk memasuki energi agung dari bhakti, kesetiaan atau ketaatan.

Ini adalah cara kita memperkembangkan, cara kita memajukan spiritualitas kita sepanjang perjalanan menuju Brahman, menyelam lebih dalam dan lebih dalam lagi. Semua orang harus memuja Brahman secara eksternal sebelum mendalami pemujaan secara penuh dan sempurna. Kita tidak bisa mendalami pemujaan secara penuh dan sempurna jika tidak diawali dengan penguasaan secara eksternal.

Ketika permasalahan timbul dalam keluarga atau di tempat kerja dan emosi muncul, itu hakekatnya lupa kepada Brahman. Itu jauh lebih mudah terjadi pada orang yang selalu memandang perbedaan-perbedaan daripada yang memandang semuanya sebagai sebuah keesaan dari ciptaan Brahman.

Jika emosi muncul, itu membutuhkan energi yang besar untuk mengingat Brahman setiap saat, untuk menjaga aliran kasih Brahman. Kita lebih sering melupakan-Nya. Kita mendapat pengaruh dari pikiran kita sendiri dan orang lain. Mustahil kita bisa menyadari keesaan Brahman yang bersemayam di semua wujud jika ego kita merasa diserang atau sakit hati.

Jauh lebih mudah melupakan Brahman daripada mengingat-Nya, dan yang berkenaan dengan Brahman menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan bahkan menakutkan; padahal itu adalah manah (naluri pikiran) kita sendiri dan angan-angan kita, daya pikiran nonreligius yang malah seharusnya dikhawatirkan atau ditakuti.

Itu adalah setan dalam diri kita, pengacau yang menjadi sumber kesusahan dan kesulitan. Jika kita ingin mengingat Brahman, mulailah dengan sedikit meluangkan waktu secara teratur untuk mengabaikan “rasa diri” kita yang bersandarkan ahamkara (ego) dan manah (naluri), mengasingkan diri secara spiritual mengikuti “rasa jati”, ruang pikiran yang bersandarkan buddhi (akal budi) dan chitta (kesadaran) yang kita yakini dapat mengantar kita menuju kepada “jati murti”, keberadaan kita yang sejati, Atman.

Sumber: http://www.facebook.com


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *