Rabindranath Tagore – Masa Senja

Oleh: Mangku Suro

Masa Senja (1932—1941)

Dalam dasawarsanya yang terakhir, Tagore tetap mendapat sorotan publik, secara terbuka mengkritik Gandhi karena mengatakan bahwa gempa bumi yang hebat pada 15 Januari 1934 di Bihar merupakan pembalasan ilahi karena menindas kaum Dalit. Ia juga meratapi kemerosotan sosial-ekonomi yang mulai terjadi di Bengali dan kemiskinan yang merajalelal di Kolkata. Ia mengungkapkannya secara terinci dalam sebuah puisi tak berirama seratus baris dengan teknik visi ganda yang kering kelak digunakan oleh Satyajit Ray dalam filmnya Apur Sansar.

Tagore juga menyusun 15 jilid tulisan, termasuk karya-karya prosa liris Punashcha (1932), Shes Saptak (1935), dan Patraput (1936). Ia terus bereksperimen denagn mengembangkna lagu-lagu prosa dan sendratari, termasuk Chitrangada (1914), Shyama (1939), dan Chandalika (1938), dan menulis novel-novel Dui Bon (1933), Malancha (1934), dan Char Adhyay (1934).

Tagore mengembangkan minatnya terhadap sains dalam tahun-tahun terakhirnya, dan menulis Visva-Parichay (kumpulan esai) pada 1937. Ia menjelajahi biologi, fisika, dan astronomi; sementara itu, puisinya — yang mengandung naturalisme yang luas — menggarisbawahi rasa hormatnya terhadap hukum-hukum ilmiah. Ia juga menjalin proses sains (termasuk naratif para ilmuwan) ke dalam banyak cerita yang terkandung dalam buku-buku seperti Se (1937), Tin Sangi (1940), dan Galpasalpa (1941).

Empat tahun terakhir hidup Tagore (1937–1941) ditandai oleh rasa sakit yang kronis dan dua penyakit yang lama dideritanya. Hal ini dimlai ketika Tagore kehilangan kesadaran pada akhir 1937; ia tetap berada dalam keadaan koma dan hampir meninggal selama waktu yang panjang. Hal ini diikuti tiga tahun kemudian pada akhir 1940 dengan penyakit yang sama, dan ia tidak pernah pulih kembali.

Puisi yang ditulis Tagore pada tahun-tahun ini adalah salah satu yang paling indah, dan sangat menonjol karena perhatiannya yang mendalam terhadap kematian. Pengalaman-pengalaman yang jauh lebih mendalam dan mistis ini memungkinkan Tagore dicap sebagai “penyair modern”. Setelah penderitaan yang panjang, Tagore meninggal pada 7 Agustus 1941 (22 Shravan 1348) di ruang atas dari gedung Jorasanko tempat ia dibesarkan; Hari kematiannya masih tetap diperingati dalam acara-acara publik di seluruh dunia berbahasa Bengali.

Sumber: http://www.facebook.com

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *