Mengertikan Jalan Indah Spiritual

Bagikan

Oleh : Prabhu Darmayasa

Salam Kasih,

Di zaman sekarang ini, kesadaran Spiritual manusia sudah mulai merosot. Khususnya jika kita membicarakan mengenai Agama, kalau saja kita mau mengamati dengan jujur, maka kita akan dipaksa untuk mengakui bahwa penerimaan atau penempatan kita terhadap Agama telah banyak mengalami kemerosotan dan sayangnya bahwa memang demikianlah keadaan yang sebenarnya.

Kalau di zaman dahulu ketika seseorang mendengar kata Agama dan dibandingkan dengan kalau zaman sekarang ini seseorang mendengar kata Agama, dan juga sekali lagi kalau kita bersedia jujur menilainya, maka kita akan menemukan perbedaan kesadaran penerimaan Agama itu.

Jika dahulu ketika orang-orang mendengar kata Agama, maka yang ada di kepala (baca: kesadaran) mereka adalah sebuah jalan spiritual indah untuk menuju kepada Tuhan YME. Walaupu jalan untuk menuju kepada Tuhan YME itu memang ada banyak pilihan dan beraneka ragam tekniknya, tetapi orang-orang pada zaman dahulu tidak memberikan perhatiannya pada perbedaan-perbedaan jalan atau cara yang ditempuh itu, melainkan mereka lebih mengertikan sebagai suatu jalan spiritual yang indah dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan YME.

Sedangkan di zaman sekarang, terutama akhir-akhir ini, kalau kita atau orang-orang mendengar kata Agama, maka secara otomatis yang akan ada muncul di kepala mereka adalah sebuah Agama sebagai Organisasi, atau kelompok, dimana mereka lebih memperhatikan pada perbedaan-perbedaan yang ada antara Agama satu dengan lainnya, dan bukan lagi melihatnya sebagai sebuah jalan indah dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan YME demipenyempurnaan Diri Sejati.

Orang-orang di zaman sekarang ini akan mengertikan Agama sebagai kelompok Organisasi-organisasi Keagamaan yang satu dengan yang lainnya saling berbeda, dan secara otomatis memberikan penekanan pada adanya sekat-sekat pemisah, yang seringkali semakin berkembang menjadi jurang pemisah sangat dalam antara kelompok Agamanya dengan kelompok Agama lain, yang tidak mungkin disambungkan lagi dengan segala upaya apapun, termasuk tidak mungkin lagi menyambungkannya dengan jembatan super panjang, karena tidak akan pernah cukup biaya untuk membuat “jembatan panjang” itu.

“Oh… Agamaku anu…, Agamamu anu… Saya berbeda… Kamu berbeda…”. Nah, ketika mereka mengatakan “Aku berbeda…, Kamu berbeda…”. Dengan demikian, maka tersembunyi kalimat yang meskipun tidak terbaca di kepala setiap orang, namun dapat dimengerti bahwa mereka menempatkan Agamanya jauh lebih baik atau yang terbaik, sedangkan Agama orang lain kurang baik, bahkan orang lain dipandang sebagai sedang tersesat dari jalan Tuhan YME.

Inilah kenyataan yang sangat pahit, namun pada kenyataannya memang benar-benar terjadi pada zaman sekarang ini. Dari sudut pandang ini, kita dapat memahami dengan jelas bagaimana telah sedemikian jauh merosotnya dunia menerima dan menyikapi Agama.

Nah…, sepanjang seseorang tidak dengan tekun dalam usaha memantapkan diri ke dalam…. , selama orang tidak menempa diri dengan tekun serta tanpa kenal lelah terus-menerus untuk mempermantap Sang Diri Sejatinya, maka ia tidak akan pernah berhasil mengertikan Agama sesuai dengan yang seharusnya, serta sebagaimana mestinya, atau sebagaimana adanya, yang dalam bahasa Inggrisnya, “As it is”.

Sepanjang seseorang belum berhasil memantapkan sang Diri Sejatinya, maka selama itulah dia akan mengalami kesulitan untuk menerima Agama sebagai apa adanya, atau “as it is”. Kapan seseorang bersedia membukakan pintu dan kapan seseorang berhasil memantapkan sang Diri Sejatinya, maka mereka akan dapat mengertikan Agama sesuai dengan Agama itu sendiri.

Dan itulah yang dijelaskan di dalam Kitab Mahabharata, dimana disana ada disebutkan, “Dharanad Dharmam Ity Ahur…” Artinya, bahwa Agama yang sejati itu adalah Agama yang menyangga hukum-hukum perputaran alami alam semesta, dan hanya Agama seperti itulah yang akan berhasil serta mampu mengantarkan orangorang kepada tujuan sejati Agama, untuk menuju kepada kebenaran sejati, yaitu kebenaran yang bukan untuk dan milik sekelompok orang atau masyarakat atau bangsa tertentu saja.

Melainkan ia adalah kebenaran Agama yang mengangkat kehidupan lahir batin umat manusia dan alam lingkungannya. Hanya Agama seperti itulah yang dapat membentuk karakter sempurna umat manusia. Nah, para Pe-Meditasi Angka hendaknya berpikir dua ribu kali empat juta, untuk mengertikan Agama sesuai makna sejatinya. Sangat banyak praktik-praktik orang-orang, atau kelompok, atau masyarakat, yang pelan-pelan diperhalus… Dan tanpa ada yang menyadarinya… Menjadilah ia Agama dalam tanda kutip.

Kalau kemudian ada sebuah pertanyaan, bolehkah kita tidak suka pada Agama? maka itu berarti kita masih perlu berpikir dua ribu kali empat juta lagi. Demikian pula jika ada seseorang yang bertanya kebalikan dari itu, maka artinya mereka juga perlu berpikir lagi dua ribu kali empat juta lagi, untuk menjadi suka atau tidak suka.

Demikianlah renungan kita kali ini, semoga teman-teman berbahagia dan mulai memberikan perhatian yang lebih serius untuk penyempurnaan Diri lahir dan batin.

Sriguru,

Darmayasa

Agama…. Ia bukan hanya sebuah kata/kalimat. Agama… Ia bukanlah sebuah pesan. Agama… Bukanlah ceramah-ceramah. Agama… Bukanlah suatu rangkaian upacara- upacara. Melainkan Agama adalah sentuhan spiritual dari segala arah dan segala bentuk yang langsung merasuk kedalam diri dan menjadikan (baca: menyempurnakan) karakter kita. Itulah Agama. Dan Agama yang dapat seperti itulah yang akan menyangga hukum alam ini, yang akan menyangga diri semua orang, yang akan menyangga seluruh alam semesta ini beserta segala isinya.

Source: http://www.e-banjar.com


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *